Jumat, 19 Juni 2015

Mini Book Komunikasi Massa



komunikasi massa




KATA PENGANTAR
Puji syukur hanya bagi Allah SWT. Yang mana ia telah memberikan hidayah dan inayah-Nya bagi kita melalui ilmu-Nya yang Maha luas sehingga saya bisa menulis Mini Book tentang “Komunikasi Massa”. Shalawat berangkaikan salam tidak lupa kami tujukan kepada Nabi Muhammad SAW yang telah membawa kita pada agama yang lurus. Mini Book ini merupakan suatu tugas dari mata kuliah Komunikasi Massa dan melalui Mini Book  ini saya berusaha menyampaikan sedikit uraian Tentang Komunikasi Massa secara luas. saya ucapkan terimakasih kepada Bapak Amri Sayarif Hidayat, M.Si.selaku dosen pengajar Komunikasi Massa yang telah membagi ilmunya kepada kami serta memberikan kesempatan kepada saya untuk membuat Mini Book ini.
Dan saya ucapkan terimakasih kepada sumber yang telah saya jadikan sebagai rujukan dalam pengembangan pembuatan makalah ini. Adapun sumber dari proses penulisan ini telah saya sertakan dalam daftar pustaka.
Akhirnya saya berharap Mini Book ini menjadi kontribusi positif,melahirkan inovasi dan memberikan inspirasi kepada pembaca.

                                         

                                                                                        Pekanbaru, juni 2015      
                                                                                                    Penulis

                                                                                     Muhammad Obby Yusuf







DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..................................................................................  2
DAFTAR ISI................................................................................................. 3
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 6
 Lesson 1 Memahami Pengertian dan Karakteristik Komunikasi Massa.6
       1.1 Munculnya media komunikasi massa................................................7
       1.2 Defenisi komunikasi massa............................................................... 8
       1.3 Ciri-ciri komunikasi massa………………………………………… 8
       1.4 Mengapa perlu mempelajari komunikasi massa………….….....…...9
       Lesson 2 Asal Usul Komunikasi Massa..……………………………....10
       2.1 Zaman tanda dan syarat………………………………………….....11
       2.2 Zaman bahasa lisan………………………………………………....11
       2.3 Zaman cetak……………………………….………………………..12
       2.4 Zaman komunikasi massa…………………………………………..13
       Lesson 3 Fungsi Komunikasi Massa….………………………………..14
       3.1 Informasi……...……………………………………………………14
       3.2 Hiburan……………………………………………………………..14
       3.3 Persuasi……………………………………………………………..15
       3.4 Transmisi budaya…………………………………………………..15
       3.5 Mendorong kohesi sosial…………………………………………..16
       3.6 Pengawasan………………………………………………………...16
       3.7 Korelasi……………………………………………………………..17
       3.8 Pewarisan sosial…………………………………………………….17
       Lesson 4 Elemen Komunikasi Massa………………………………….18
       4.1 Komunikator………………………………………………………..18
       4.2 Pesan/isi……………………………………………………………..19
       4.3 Audience…………………………………………………………….20
       4.4 Umpan balik………………………………………………………...21
       4.5 Gatekeeper…………………………………………………………..21
       4.6 Gangguan…………………………………………………………....23
     Lesson 5. Proses dan Model Komunikasi Massa……………………….23
     5.1 Proses komunikasi massa……………………………………………23
     5.2 Model-model komunikasi massa……………………………………24
     A. Model alir dua tahap………………………………………………….24
     B. Model alir banyak tahap……………………………………………...25
     C. Model delfin delfeur………………………………………………….26
     D. Model Michael W Gamble dan Teri Kwal Gamble………………….26
     E. Model HUB……………………………………………………………27
     F. Model Black dan Whitney…………………………………………….28
     G. Model Bruce Westley dan Malcom McLean…………………………28
     H. Model Maletzke……………………………………………………….29
      I. Model Bryant dan Wallace…………………………………………....29
     Lesson 6. Teori Komunikasi Massa……………………………………..30
     6.1 Penerapan teori komunikasi massa………………………………….30
     A. Hypodermic Needle Theory…………………………………………..30
     B.  Cultivation Theory…………………………………………………….31
C. Cultural Imperialism Theory…………………………………………..31
D. Media Equation Theory………………………………………………..34
E. Spiral of Silence Theory………………………………………………..34
F. Technological Determinism Theory……………………………………34
G. Diffusion of Inovation Theory…………………………………………37
H. Uses and Gratifications Theory………………………………………...39
I. Agenda Setting Theory…………………………………………………..40
J. Media Critical Theory……………………………………………………43
Lesson 7. Efek Komunikasi Massa………………………………………..45
7.1 Jenis-jenis efek…………………………………………………………45
A. Primer…………………………………………………………………...45
B. Sekunder………………………………………………………………...45
7.2 Teori-teori efek…………………………………………………………46
A. Efek tidak terbatas………………………………………………………46
B. Efek terbatas…………………………………………………………….46
C. Efek moderat……………………………………………………….....47
7.3 Faktor-faktor yang mempengaruhi efek………………………….....48
Lesson 8. Memahami Etika dalam Komunikasi Massa………………....49
8.1 Etika, Etiket, dan Moral………………………………………………49
8.2 Mengapa etika komunikasi massa harus dipahami………………....54
8.3 Etika komunkasi massa(tanggungjawab, kebebasan pers, masalah etis, ketetapan dan obyektifitas, tindakan adil untuk semua orang)…………55
8.4 Realitas pelaksanaan etika komunikasi……………………………...57
                                                                                                                       
     BAB IIIPENUTUP.................................................................................. 57
A.    Kesimpulan…………………………………………………………..57
     DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………….59
     Biografi Penulis…………………………………………………………...60



BABII PEMBAHASAN

LESSON 1. Memahami Pengertian dan Karakteristik Komunikasi Massa

Komunikasi, dalam sekian banyak bentuknya, memiliki peran dan fungsi yang cukup besar dalam kehidupan manusia. Watzalawick dalam Bradac and Bowers (1980) bahkan mengungkapkan bahwa human being cannot not communicate. Setiap manusia memiliki potensi untuk berkomunikasi satu sama lain saat dia terdiam sekalipun. Komunikasi manusia memiliki beberapa konteks tergantung dari jumlah komunikator, derajat kedekatan fisik, saluran indrawi yang tersedia hingga kesegeraan umpan balik.

Salah satu konteks komunikasi ini antara lain adalah komunikasi massa. Cassandra (dalam Mulyana, 71;2002) menyebutkan bahwa jika konteks komunikasi massa dibandingkan dengan konteks komunikasi lainnya maka dapat dijelaskan bahwa komunikasi massa merupakan sebuah bentuk komunikasi yang memiliki jumlah komunikator yang paling banyak, derajat kedekatan fisik yang paling rendah, saluran indrawi yang tersedia sangat minimal dan umpan balik yang tertunda.

 Karakteristik Komunikasi Massa

Serupa dengan definisi komunikasi massa, karakteristik tentang komunikasi massa pun memiliki banyak versi dari para ahli komunikasi. Elizabeth Noelle Neuman (dalam Rakhmat, 1983 : 92 ) menyebutkan empat tanda pokok dalam komunikasi massa yaitu :
1. komunikasi massa bersifat tidak langsung
2. komunikasi massa bersifat satu arah
3. komunikasi massa bersifat terbuka.
4. memiliki publik yang secara geografis tersebar.

Dari uraian-uraian tersebut maka dapat disimpulkan bahwa karakteristik komunikasi massa adalah sebagai berikut :
1. Sumber atau komunikator dari komunikasi massa merupakan sebuah organisasi terlembaga yang menentukan pesan apa saja yang akan disebarkan.
2. Pesan bersifat terbuka karena semua orang mendapat isi pesan yang sama, mahal karena melibatkan beberapa tahapan encoding dan decoding serta diperlukannya teknologi untuk memproduksi dan menyebarkan pesan, serta dapat dipotong dengan gampang.
3. Komunikan tidak memiliki identitas (anonim), banyak, tersebar dan heterogen sehingga terpaan pesan dapat diapresiasi berbeda oleh masing-masing individu.
4.Proses umpan balik berjalan lambat dan sulit mendapatkan respons dari komunikator.

1.1 Munculnya  Media Komunikasi Massa

Tujuan bagian ini ialah untuk memaparkan gambaran umum menyangkut urutan perkembangan media massa dewasa ini, menunjukkan hal-hal penting, dan untuk menyajikan secara singkat kondisi tempat dan massa munculnya batasan masyarakat tentang pelbagai media yang berbeda. Semua itu terjadi pada awal mengenal suatu media dan “di bentuk” oleh kondisi masa lalu itu,juga oleh perlengkapan dasar sebagai wahana komunikasi.

Sehubungan dengan sejarah media massa, kami membahas empat unsure utama: teknologi, situasi politik, social ekonomi dan masyarakat; serangkai kegiatan , fungsi atau kebutuhan; manusia – terutama dalam arti kelompok, kelas social dan kelompok kepentingan.

Semua itu berinteraksi dalam cara yang berbeda dengan keunggulan masing-masing dalam media yang berbeda pula. Sering kali salah satu di antaranya tampak berperan sebagai factor penunjang atau pendorong yang paling kuat, sering kali pula justru yang lemah.

1.2 Defenisi Komunikasi Massa

Definisi paling sederhana dari komunikasi massa diungkapkan oleh Bittner (dalam Rahmat, 2005: 186) ”Komunikasi massa adalah pesan yang dikomunikasikan melalui media massa pada sejumlah besar orang”.

Dari definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa komunikasi massa merupakan kegiatan seseorang atau suatu organisasi yang memproduksi serangkaian pesan dengan bantuan mesin untuk disebarkan kepada khalayak banyak yang bersifat anonim, heterogen dan tersebar.
Source dalam bagan diatas merupakan para profesional atau sebuah organisasi besar yang bertindak sebagai gatekeeper.

 Pesan yang disiapkan oleh gatekeeper untuk disebarkan adalah pesan yang dibentuk berdasarkan pertimbangan ekonomi, legal dan etika. Dengan adanya perbedaan interprestasi peran oleh masing-masing individu dalam khalayak yang menyebabkan adanya efek baik pada tingkat individual dan tingkat masyarakat.

1.3 Ruang Lingkup Komunikasi Massa

Studi Komunikasi adalah human communication, dengan kata alain studi Komunikasi harus selalu  melibatkan manusia, baik sebagai komunikator maupun komunikan. Dari sini jelas bahwa yang dimaksud dalam studi komunikasi itu melibatkan manusia sebagai subjek dan objeknya.

Dalam komuniasi dengan diri sendiri misalnya, ia hanya membutuhkan unsur komunikator (dirinya sendiri), pesan (dari dirinya sendiri) dan begitu pula dengan komunikan. Dalam komunikasi antarpesona lebih kompleks lagi, misalnya ada noise, komunikator juga bertindak sebagai komunikan dan sebaliknya.

Dalam komunikasi massa lebih kompleks lagi, ia melibatkan banyak hal mulai dari komunikator, komunikan, media massa, unsur proses menafsirkan pesan, feedback yang lebih kompleks karena melibatkan khalayak dalam jumlah yang besar.

1.4 Ciri-Ciri Komunikasi Massa

1. Menggunakan media masa dengan organisasi
(lembaga media) yang jelas.
2.  Komunikator memiliki keahlian tertentu
3.  Pesan searah dan umum, serta melalui proses
produksi dan terencana
4.  Khalayak yang dituju heterogen dan anonim
5.  Kegiatan media masa teratur dan
berkesinambungan
6.  Ada pengaruh yang dikehendaki
7.  Dalam konteks sosial terjadi saling
memengaruhi antara media dan kondisi
masyarakat serta sebaliknya.
8.  Hubungan antara komunikator (biasanya
media massa) dan komunikan (pemirsanya)
tidak bersifat pribadi.

1.5 Mengapa perlu mempelajari komunikasi massa

 Komunikasi pada umumnya sebagai alat untuk berinteraksi dan berkomunikasi baik secara langsung maupun tidak langsung. Namun didalam komunikasi ada beberapa bagian, yang salah satunya komunikasi massa.
Ilmu komunikasi sangatlah penting untuk kita ketahui dan kita pahami, sebab dalam komunikasi massa kita diadapi oleh yang namanya media massa, sebagai alat untuk penyalur informasi yang kita butuhkan dalam kehidupan.

Selain itu jika manusia ditetapkan sebagai objek dalam media, kita semestinya mengerti akan ruang lingkup media massa, agar kita tidak salah prinsip dalam memahami komunikasi massa, dan itulah alasan mengapa pentingnya komunikasi massa untuk dipelajari.

LERSON 2. Asal Usul Komunikasi Massa

Perkembangan luar biasa media massa dari waktu ke waktu telah membentuk massa depan umat manusia. Media massa tidak hanya media informasi, melainkan juga telah menjadi kekuatan baru dalam mempengaruhi dan membentuk perilaku manusia dan agen perubahan sosial yang mana ada 2 perubahan sosial yang terjadi yang diantaranya sebagai berikut.
- Perubahan perilaku: gaya hidup, pragmatis, hedonis, konsumerisme
- Perubahan sosial : masyarakat tradisional menjadi manusia modern.
Perjalanan panjang proses komunikasi manusia dimulai dari mulai komunikasi non verbal à komunikasi verbal à komunikasi via tulisan à penemuan mesin cetak à era komunikasi massa.
Menurut Melvin DeFleur, untuk melihat kondisi komunikasi massa yang luar biasa ini perlu melihat ke belakang bagaimana sejarah penjang komunikasi massa. Dia melihat setidaknya ada 5 revolusi komunikasi massa:
1.      Zaman penggunaan tanda dan isyarat sebagai alat komunikasi (the age of sign and signal)
2.      Zaman digunakan percakapan dan bahasa sebagai alat komunikasi (the age of  speech and languages)
3.      Zaman digunakan tulisan sebagai alat komunikasi (the age of writing)
4.      Zaman digunakan media cetak sebagai alat komunikasi (the age of print)
5.      Zaman digunakannya media massa sebagai alat komunikasi (the age of mass communication)

2.1 Zaman Tanda dan Syarat

Era ini adalah era paling awal dalam sejarah manusia pada masa ini, proses komunikasi manusia masih menggunakan insting daripada rasio Pola komunikasi masih menyerupai hewan (jeritan, tangisan, gerakan tubuh untuk bahaya. Pada era ini indera pendengar masih menjadi alat yang sangat penting dalam berkomunikasi.

Setelah beribu-ribu tahun berjalan akahirnya pola komunikasi mengalami perkembanga yang mana digunakannya bahasa tanda dan isyarat sebagai alat komunikasi.

Penggunaan bahasa tanda dan isyarat sebagai bentuk penyempurnaan penggunaan suara karena keterbatasan ini, maka pada masa ini perkembangan budaya manusia masih sangat lamban.

2.2 Zaman Bahasa Lisan

Era ini ditandai dengan mulai lahirnya embrio kemampuan untuk berbicara dan berbahasa secara terbata-bata dalam kelompok masyarakat tertentu.Manusia jenis Cro Magnon menjadi cirri utama era ini.

 Cro Magnon mempunyai struktur tengkorak,lidah,dan kotak suara seperti yang kita punyai. Ini dapat menjadi bukti bahwa mereka mempunyai kapasitas untuk berbicara. Pada era ini manusi Cro Magnon bisa berkembang karena mereka bisa menggunakan percakapan dan bahasa sebagai alat komunikasi.
Kata-kata, angka,dan simbol lain termasuk aturan berbahasa yang telah dibangun. Dengan sistem simbolik yang dimiliki, individu dapat mengklasifikasi, mengirim, menerima dan mengerti pesan lebih baik. Perubahan komunikasi percakapan dan bahasa telah menghantarkan budaya mereka berubah secara drastic dari hanya berburu ke pembangunan peradaban klasik yang besar dan monumental.
2.3 Zaman Cetak (the age of print)

Penemu cetakan pertama kali terjadi di mainz,Jerman tahun 1455,dia bernama Johan Gutenberg. Dialah yang awal mengenalkan cara mencetak,dia membangun gagasan dengan membuat mesin baja untuk masing-masing huruf. Ini lah babak awal yang menjadi embrio munculnya era komunikasi massa.awal abad ke 16,mesin cetak Gutenberg telah mampu mencetak dan melipatgandakan cetakan yang dapat dipindah dan telah mampu mencetak ribuan salinan buku cetak di atas kertas.
Melvin D Fleur dan Sandra J.Ball-Rokeach (1989) mengatakan ada dua hal yang penting yang layak dicermati dalam era ini. Pertama, media surat kabar dan juga media cetak lainnya bisa muncul setelah seperangkat kompleksitas elemen budaya muncul dan terus berkembang di masyarakat. Kedua, penemuan mesin cetak merupakan gabungan elemen dalam masyarakat.
Di akhir abad ke19 menjadi jelas munculnya beberapa bentuk media cetak seperti suratkabar, buku dan majalah semua itu digunakan secara luas oleh masyarakat. Ahli Sosiologi Amerika Charles Horton Cooley menyatakan ada beberapa faktor yang membuat media baru jauh lebih efisien dari pada proses komunikasi pada masyarakat sebelumnya, diantaranya: Expressiveness (membawa perluasan gagasan dan perasaan), Permanent of Record (mengatasi waktu), Swiffness (mengatasi ruang), Diffussion (jalan masuk ke kelas-kelas yang ada dalam masyarakat).




2.4 Zaman Komunikasi Massa ( the age of mass communication)
Dengan kemunculan media cetak langkah aktivitas komunikasi mulai menanjak cepat. Seperti penemuan tegrap,ini menjadi elemen penting bagi akumulasi teknologi yang akhirnya akan mengarahkan masyarakat memasuki era media massa elektronik.
Beberapa dekade terakir percobaan yang dilakukan telah membawa kesuksesan untuk memasuki era dunia montion picture pada awal abad ke 20. ini diikuti pada tahun 1920-an dengan pengembangan radio rumah tangga dan pada tahun 1940 an dengan dimulainya televisi rumah tangga. Bahkan tahun 1950-an pada saat radio mengalami kejenuhan pada keluarga Amerika,radio berkembang lebih pesat dengan melakukan penetrasi yang kian meningkat dalam bentuk radio kamar tidur dan dapur didukung pertumbuhan sejumlah manara pemancar. Pada tahun-tahun selanjutnya media baru ditambahkan seperti videotek,televisi kabel,dan sebagainya. Komunikasi massa menjadi satu hal penting dan menjadi bagian dalam kehidupan modern saat ini
Pada era ini masing-masing media bertambah kompleks dan sempurna akumulasi peralatan media ini telah menjadikan pertumbuhan masyarakat semakin sempurna, apalagi saat ini telah muncul komunikasi dengan memakai satelit, acara yang disiarkan oleh media elektronik misalnya, tidak lagi direkam tetapi banyak yang disiarkan secara langsung dan tentunya dampaknya pun semakin terasa.
Dan munculnya internet sebagai bentuk komunikasi massa yang paling baru membawa pengaruh yang tidak sedikit pula.Internet telah mengambil peran revolusi komikasi yang kian kompleks.
Inilah abad komunikasi massa. Semua dipercepat,dipermudah,disederhanakan, tetapi dampak negatif yang ditimbulkan juga akan lebih nyata dan besar. Munculnya era komunikasui massa adalah keniscayaan yang tidak bisa dihindari Komunikasi massa adalah keniscayaan sejarah perkembangan manusia dalam melakukan komunikasi. Semakin cerdas manusia, semakin kompleks dan rumit komunikasi yang dilakukan.
LESSON 3. Fungsi Komunikasi Massa
Wilbur Schramm menyatakan, komunikasi massa berfungsi sebagai decoder, interpreter dan encoder. Komunikasi massa mendecode lingkungan sekitar kita, mengawasi kemungkinan timbulnya bahaya, mengawasi terjadinya persetujuan dan juga efek dari hiburan. Komunikasi massa menginterpretasikan hal-hal yang di-decode sehingga dapat mengambil kebijakan terhadap efek, menjaga berlangsungnya interaksi serta membantu anggota-anggota masyarakat menikmati kehidupan. Komunikasi massa juga meng-encode pesan-pesan yang memelihara hubungan kita dengan masyarakat lain serta menyampaikan kebudayaan baru kepada anggota-anggota masyarakat. Peluang ini dimungkinkan karena komunikasi massa mempunyai kemampuan memperluas pandangan, pendengaran dalam jarak yang hampir tidak terbatas, dan dapat melipatgandakan suara dan kata-kata secara luas.
3.1 Informasi
Fungsi informasi merupakan fungsi paling penting yang terdapat dalam komunikasi massa. Komponen paling penting untuk mengetahui fungsi informasi ini adalah berita-berita yang disajikan. Fakta-fakta yang dicari wartawan di lapangan kemudian dituangkannya dalam tulisan juga merupakan informasi. Fakta yang dimaksud adalah adanya kejadian yang benar-benar terjadi di masyarakat.
3.2 Hiburan
Fungsi hiburan untuk media elektronik menduduki posisi yang paling tinggi dibandingkan dengan fungsi-fungsi yang lain. Masalahnya, masyarakat kita masih menjadikan televisi sebagai media hiburan. Hal ini mendudukkan televisi sebagai alat utama hiburan (untuk melepas lelah). Oleh karena itu, jangan heran jika jam-jam prime time (pukul 19.00 sampai 21.00) akan disajikan acara-acara hiburan, entah sinetron, kuis, atau acara jenaka lainnya.
Sangat sulit untuk diterima penonton seandainya pada jam prime time televisi menyiarkan acara Dialog Politik. Jelas acara itu akan menimbulkan penolakan masyarakat.
3.3 Persuasi
Fungsi persuasif komunikasi massa tidak kalah pentingnya dengan fungsi informasi dan hiburan. Banyak bentuk tulisan yang kalau diperhatikan sekilas hanya berupa informasi, tetapi jika diperhatikan secara lebih jeli ternyata terdapat fungsi persuasi. Bagi Josep A. Devito (1997) fungsi persuasi dianggap sebagai fungsi yang paling penting dari komunikasi massa. Persuasi bisa datang dari berbagai macam bentuk: Pertama, mengukuhkan atau memperkuat sikap, kepercayaan, atau nilai seseorang; Kedua, mengubah sikap, kepercayaan, atau nilai seseorang; Ketiga,  menggerakkan seseorang untuk melakukan sesuatu; dan Keempat, memperkenalkan etika, atau menawarkan sistem nilai tertentu.
3.4 Transmisi Budaya
Transmisi budaya merupakan salah satu fungsi komunikasi massa yang paling luas, meskipun paling sedikit dibicarakan. Transmisi budaya tidak dapat dielakkan selalu hadir dalam berbagai bentuk komunikasi yang mempunyai dampak pada penerimaan individu. Transmisi budaya mengambil tempat dalam dua tingkatan, kontemporer dan historis. Di dalam tingkatan kontemporer, media massa memperkuat konsensus nilai masyarakat, dengan selalu memperkenalkan bibit perubahan secara terus menerus. Hal ini merupakan faktor yang memberi petunjuk teka-teki yang mengitari media massa, mereka secara serempak pengukuh status quo dan mesin perubahan. Sementara itu, secara historis umat manusia telah dapat melewati atau menambahkan pengalaman baru dari sekarang untuk membimbingnya ke masa depan.
 3.5 Mendorong Kohesi Sosial
Kohesi yang dimaksud di sini adalah penyatuan. Artinya, media massa mendorong masyarakat untuk bersatu. Dengan kata lain, media massa merangsang masyarakat untuk memikirkan dirinya bahwa bercerai-berai bukan keadaan yang baik bagi kehidupan mereka. Media massa yang memberitakan arti pentingnya kerukunan hidup umat beragama, sama saja media massa itu mendorong kohesi sosial. Akan tetapi, ketika media massa mempunyai fungsi untuk menciptakan integrasi sosial, sebenarnya di sisi lain media juga memiliki peluang untuk menciptakan disintegrasi sosial. Jadi, sebenarnya peluang untuk menciptakan integrasi dan disintegrasi sama besarnya.
3.6 Pengawasan
Bagi Laswell, komunikasi massa mempunyai fungsi pengawasan. Artinya, menunjuk pada pengumpulan dan penyebaran informasi mengenai kejadian-kejadian yang ada di sekitar kita. Fungsi pengawasan bisa dibagi menjadi dua, yakni warning or beware surveillance atau pengawasan peringatan dan instrumental surveillance atau pengawasan instrumental.
Fungsi peringatan dapat dilihat dari pemberitaan tentang munculnya badai, topan, gelombang laut yang mengganas, angin rebut disertai hujan lebat, dan sebagainya. Fungsi pengawasan peringatan juga meliputi informasi tentang suatu wabah penyakit yang mulai menyebar akan adanya serangan militer yang dilakukan Negara lain. Sementara itu, fungsi pengawasan yang kedua yaitu pengawasan instrumental. Aktualisasi dari fungsi ini adalah penyebaran informasi yang berguna bagi masyarakat. Harga kebutuhan sehari-hari merupakan informasi penting yang sangat dibutuhkan masyarakat.


3.7 Korelasi
Fungsi korelasi yang dimaksud adalah fungsi yang menghubungkan bagian-bagian dari masyarakat agar sesuai dengan lingkungannya. Erat kaitannya dengan fungsi ini adalah peran media massa sebagai penghubung antara berbagai komponen masyarakat. Bagi Charles R. Wright fungsi korelasi juga termasuk menginterpretasikan pesan yang menyangkut lingkungan dan tingkah laku tertentu dalam mereaksi kejadian-kejadian. Salah satu bagian terpenting dalam menjalankan fungsi korelasi yang termasuk interpretasi bila dilihat dari Tajuk Rencana atau Hoofd Artikel (Belanda),Leader/Leader Writer (Inggris) sebuah surat kabar, meskipun tajuk rencana juga memiliki fungsi persuasi. Tajuk yang biasanya ditulis oleh redaktur senior itu bagi Djafar H. Assegaff (1983) mempunyai 4 fungsi sebagai berikut :
  1. Menjelaskan berita
  2. Mengisi latar belakang
  3. Meramalkan masa depan
  4. Meneruskan suatu penilaian moral
Dengan demikian, tajuk rencana mempunyai fungsi untuk interpretasi kejadian-kejadian yang ada dalam masyarakat.
3.8 Pewarisan Sosial
Dalam hal ini media massa berfungsi sebagai seorang pendidik, baik yang menyangkut pendidikan formal maupun informal yang mencoba meneruskan atau mewariskan suatu ilmu pengetahuan, nilai, norma, pranata, dan etika dari satu generasi ke generasi selanjutnya.
Ada juga yang mengatakan fungsi pewarisan sosial ini dengan transmisi budaya, Jay Black dan Frederick C. Whitney (1988) dua diantara ilmuwan komunikasi yang mengatakan itu, tetapi fungsi ini sama dengan pewarisan sosial. Sebab, yang namanya budaya meliputi tiga hal, yakni ide atau gagasan, aktivitas, dan benda-benda hasil kegiatan.
Ide yang diwariskan dari satu generasi ke generasi selanjutnya termasuk kebudayaan. Bagi Black dan Whitney transmisi budaya media massa bisa memperkuat kesepakatan nilai-nilai sosial yang ada dalam masyarakat. Disamping itu, media juga berperan untuk selalu memperkenalkan ide-ide perubahan yang perlu dilakukan masyarakat secara terus-menerus.
LESSON 4. Elemen Komunikasi Massa
Elemen komunikasi pada komunikasi secara umum juga berlaku bagi komunikasi massa. Perbedaannya komunikasi massa dengan komunikasi pada umumnya lebih berdasarkan pada jumlah pesan berlipat-lipat yang sampai pada penerima. Dalam komunikasi massa pengirim sering disebut sebagi sumber atau komunikator, sedangkan penerima pesan yang berjumlah banyak disebut audience, komunikan, pendengar, pemirsa, penonton, atau pembaca. Sementara itu, saluran dalam komunikasi massa yang dimaksud antara lain televisi, radio, surat kabar, buku, film, kaset/cd dan internet yang juga sering disebut media massa.
4.1 Komunikator
Komunikator dalam komunikasi massa sangat berbeda dengan komunikator komunikasi yang lain, komunikator disini meliputi jaringan, stasiun lokal,direktur dan staf teknis yang merupakan bagian dari lembaga media massa.Bersifat mencari keuntungan tidak hanya menyampaikan informasi, karenakeuntungan tersebut merupakan sumber kehidupan dan kelangsungan hidupmedia itu sendiri.

Ada beberapa karakteristik yang dimiliki oleh komunikator dalamkomunikasi massa. Menurut Heibert, Ungurait dan Bohn setidaknya adalima karateristk media massa antara lain:

A. Daya saing: Setiap media massa harus memiliki daya saing untuk  berkompetisi di industry media massa yang semakin hari semakin ketat persaingannya. Daya saing tersebut ditumbuhkan dari kebijakan yangdikeluarkan komunikator dan berorientasi agar media massa itu tidak  bangkrut.

B. Ukuran dan kompleksitas : Merupakan sifat khusus yang melekat padakomunikator dalam komunikasi massa. Ukuran berhubungan erar dengan jumlah orang yang dipekerjakan dalam media massa, semakin besar media massa maka semakin banyak juga orang yang terlibat. Kompleksitas berkaitan dengan struktur media massa yang makin rumit jika jumlah tenaga kerjanya yang makin banyak.

C.  Industrialisasi : Dampak dari banyaknya orang yang dipekerjakan adalah dibutuhkannya manajemen yang prosesional dengan struktur yang kompleks, karenanya media perlu dikelola seperti halnya industry.

4.2 Pesan/ Isi

Masing-masing media massa mempunyai kebijakan sendiri dalam melakukan pengelolaan isi. si atau content suatu media massa tidak pernah sama antara yang satu dengan yang lainnya, sebab dalam melayani masyarakat yang beragam juga menyangkut individu atau kelompok sosial. Menurut Ray Eldon Hiebert (1995) media harus memuat setidaknya-tidaknya beberapa hal antar lain:

a.       Berita informasi : merupakan hal pokok yang harus dimiliki oleh media massa, setiap hari media massa melaporkan kejadian di seluruh dunia kepada khalayaknya, hal ini merupakan bentuk tanggung jawab media massa sebagai saluran komunikasi.
b.      Analisis dan integrasi : Selain melaporkan berita, media massa juga menganalisis berita tersebut. Melalui keahlian dalam menginterpretasikan pesan dan fakta-fakta dari lapangan, media massa menyajikan berita yang mudah untuk dipahami. Usaha untuk menginterpretasikan fakta-fakta dilapangan ini tidak berarti bahwa sajian berita yang disampaikan semuanya harus baik. Akan tetapi media massa dituntut untuk melakukan pelaporan secara detail, tidak ceroboh dan tidak berat sebelah.
a.   Pendidikan dan sosialisasi : Ketika media massa menyampaikan informasi dan analisisnya memberikan ilmu pengetahuan, secara tidak langsung media massa memfungsikan dirinya sebagai pendidik. Dengan kata lain, apa yang disajikan mengandung unsure pendidikan. Fungsi pendidikan ini secara tidak langsung ada kaitannya dengan sosialisasi suatu ilmu pengetahuan dari generasi satu ke generasi selanjutnya.
b.   Hubungan masyarakat : Isi media menghubungkan antarpihak, seperti rubric opini, surat pembaca dsb yang dapat menghubungkan antarpihak.
c.    Iklan dan bentuk penjualan lain : Iklan tidak dapat dipisahkan dari media massa, iklan berfungsi sebagai persuasi. Lewat iklanlah hidup mati media massa ditentukan walaupun beberapa media dapat hidup tanpa iklan namun hal ini jarang sekali. Karena iklan merupakan sumber pendapatan media tersebut.
d.   Hiburan : Selain berita media massa juga harus menampilkan sisi yang dapat menghibur masyarakat.

4.3 Audience

Audience atau khalayak adalah massa yang menerima informasi massayang disebarkan melalui media massa,audience atau komunikan dalamkomunikasi massa sangat beragam mulai dari jutaan penonton televisi,ribuan pembaca buku, majalah, surat kabar atau jurnal ilmiah. MenurutHeibert dan kawan-kawan
Audience dalam komunikasi massa memilikikarakteristik yakni:

A. Audience cenderung berisi individu-individu yang condong untuk  berbagi pengalaman dan dipengaruhi oleh hubungan sosial diantaramereka. Individu tersebut memilih produk media yang mereka gunakan berdasarkan seleksi kesadaran.
B. audience cenderung besar, besar berarti tersebar diseluruh wilayah jangkauan sasaran komunikasi massa. Meskipun begitu ukuran luas ini sifatnya relative, tak ada ukuran pasti tentang luasnya audience itu.
C. audience bersifat heterogen berasal dari berbagai lapisan dan kategori sosial. Beberapa media mempunyai sasaran tetapi heterogenitasnya tetap ada.
D. audience cenderung anonim yakni tidak mengenal satu sama lain.
E. audience secara fisik dipisahkan dari komunikator

4.4 Umpan Balik

Umpan balik yang terjadi di media komunikasi massa adalah umpan balik tidak langsung, jadi komunikan memberikan reaksi kepada komunikator dalam jangka waktu tertentu dan tidak langsung seperti dalam komunikasi tatap muka. Jadi umpan balik tidak langsung bisa dikatakan sebagai ciri utama komunikasi massa. Akibat perkembangan teknologi komunikasi yang terkomputerisasi beberapa decade belakangan ini, memunculkan perkembangan baru umpan balik dalam saluran komunikasi massa. Salah satu daya tarik televise atau media cetak dapat dilihat dari pemasangan iklan, semakin popular suatu acara maka semakin banyak iklan yang masuk. Dengan demikian iklan merupakan salah satu umpan balik dari program suatu acara. Untuk memutuskan melakukan pemasangan iklan biasanya pemsang iklan melihat rating popularitas acara tersebut, dengan demikian rating juga merupakan salah satu bentuk feedback.

4.5 Gatekeeper

Gatekeeper adalah penyeleksi informasi, sebagaimana diketahui bahwa komunikasi massa dijalankan oleh beberapa orang dalam organisasi media massa. Mereka inilah yang menyeleksi informasi yang akan disiarkan atau tidak disiarkan.
Istilah gatekeeper pertama kali diperkenalkan oleh Kurt Lewin tahun 1947. Menurut John R.Bittner, gatekeeper diartikan sebagai individu-individu atau kelompok orang yang memantau arus informasi dalam sebuah saluran komunikasi.

Semua saluran media massa mempunyai sejumlah gatekeeper. Mereka memainkan peranan dalam beberapa fungsi, mereka bisa menghapus pesan atau bahkan memodifikasi dan menambah pesan yang akan disebarkan. Mereka pun bisa menghentikan sebuah informasi dan tidak membuka “pintu gerbang” (gate) bagi keluarnya informasi yang lain.

Bagaimana membedakan seseorang dalam media massa yang bertindak sebagai komunikator dan gatekeeper? Ray Eldon Hibert mencoba meberikan jawaban : Seseorang yang menciptakan atau membuat disebut sebagai komunikator sedangkan jika seseorang yang mengevaluasi ciptaan orang lain adalah gatekeeper.

Gatekeeper memiliki efek potensial didalam proses komunikasi massa, khususnya jika media yang seharusnya milik masyarakat itu dikontrol oleh “elite minoritas” dengan melarang hak public untuk mengetahui. Misalnya “elite minoritas” adalah pemilik modal, pemilik modal ada kalanya mempengaruhi kerja gatekeeper. Pemilik modal berharap apa yang disiarkan sesuai dengan kebijakannya.

Penapisan informasi yang dilakukan oleh gatekeeper memunculkan efek, salah satunya adalah distorsi informasi. Distorsi informasi terdiri dari dua, yakni systematic distortion dan random distortion.Systematic distortion biasanya terjadi melalui pembiasaan informasi yang disengaja seperti pemutar balikan fakta agar audience mengikuti konstruksi informasi yang diciptakan media massa. Sementara random distortion terjadi melalui kecerobohan atau ketidaktahuan yang sangat berkaitan dengan human error. Kecerobohan mungkin terjadi karena kekurangan informasi, tergesa-gesa untuk target sasaran terbit. Sementara ketidaktahuan bisa dikatakan distorsi karena komunikator sengaja memberitakan atau menyiarkan informasi yang dia sendiri tidak mengetahui pasti permasalahan tersebut.


4.6 Gangguan

Gangguan dalam komunikasi massa bisanya selalu ada, semakin kompleks teknologi yang digunakan masyarakat semakin besar pula peluang munculnya gangguan serta semakin banyak variasi program acara yang disajikan maka semakin meningkat munculnya gangguan.

Gangguan dalam komunikasi massa terbagi menjadi dua macam yakni gangguan saluran dan gangguan semantik. Gangguan saluran ini dibagi menjadi dua yakni ganguan dalam dan gangguan luar. Gangguan dalam contohnya kesalahan cetak, kata yang hilang atau paragraf yang dihilangkan dari surat kabar atau bisa juga gambar tidak jelas dalam saluran televisi.

Sedangkan gangguan luar contohnya telepon yang berdering dan gangguan suara ribut. Adapun gangguan semantik adalah gangguan yang berhubungan dengan bahasa atau dapat dikatakan gangguan semantik adalah gangguan dalam proses komunikasi yang diakibatkan oleh pengirim atau penerima pesan itu sendiri. Biasanya gangguan ini sangat terasa sekali dalam media elektronik.

LESSON. 5 Proses dan Model Komunikasi Massa

5.1 Proses Komunikasi Massa
Komunikasi massa dalam prosesnya melibatkan banyak orang yang bersifat kompleks dan rumit.  Menurut McQuail (1999)  proses komunikasi massa terlihat berproses dalam bentuk:

1. Melakukan distribusi dan penerimaan informasi dalam skala besar. Jadi proses komunikasi massa melakukan distribusi informasi kemasyarakatan dalam skala yang besar, sekali siaran atau pemberitaan jumlahdan lingkupnya sangat luas dan besar.
    2. Proses komunikasi massa cenderung dilakukan melalui model satu arah yaitu dari komunikator kepada komunikan atau media kepada khalayak.  Interaksi yang terjadi sifatnya terbatas.
    3. Proses komunikasi massa berlangsung secara asimetris antara komunikator dengan komunikan.  Ini menyebabkan komunikasi antara mereka berlangsung datar dan bersifat sementara. Kalau terjadi sensasi emosional sifatnya sementara dan tidak permanen.
    4. proses komunikasi massa juga berlangsung impersonal atau non pribadi dan anonim.
    5. Proses komunikasi massa juga berlangsung didasarkan pada hubungan kebutuhan-kebutuhan di masyarakat. Misalnya program akan ditentukan oleh apa yang dibutuhkan pemirsa.  Dengan demikian media massa juga ditentukan oleh rating yaitu ukuran di mana suatu program di jam yang sama di tonton oleh sejumlah khalayak massa.

5.2 Model-Model Komunikasi Massa

A.  Model Alir dua Tahap (Two-STep Flow Model)

1. Model ini menyatakan, pesan-pesan media massa tidak seluruhnya mencapai massa audience secara langsung, sebagian besar malahan berlangsung secara bertahap. Tahap pertama dari media massa kepada orang-orang tertentu di antara mass audience (opinion leaders) yang bertindak selaku gate-keepers.

2. Dari sini pesan-pesan media diteruskan kepada anggota-anggota mass audience yang lain sebagai tahap yang kedua sehingga pesan-pesan media akhirnya mencapai seluruh penduduk.

3. Para opinion leaders dan followers secara keseluruhan adalah mass audience. Pada umumnya opinion leader lebih banyak bersentuhan dengan media massa dibandingkan dengan followers. Karena posisinya, opinion leader mempunyai pengaruh alas follower-nya, yang atas peranan opinion leader pesan-pesan media mendapatkan efek yang kuat.

B. Model Alir Banyak Tahap (Multi-Step Flow Model)

1. Model alir banyak tahap merupakan gabungan dari semua model. Model ini menyatakan, pesan-pesan media massa menyebar kepada khalayak melalui suatu interaksi yang amat kompleks.

2. Media mencapai khalayak dapat secara langsung dan dapat pula melalui macam-macam penerusan (relaying) secara beranting, baik melalui pemuka-pemuka masyarakat (opinion leaders) maupun melalui situasi saling berhubungan antara sesama anggota khalayak.

3. Model alir banyak tahap dilandasi pada suatu fungsi penerusan, yang sering terjadi dalam sebagian besar situasi komunikasi. Model ini tidak memerlukan suatu jumlah tertentu dari tahap-tahap yang mesti dilalui, dan tidak menerangkan, suatu pesan harus mengalir dari suatu sumber lewat saluran-saluran media massa.

4. Model alir banyak tahap menyatakan, ada sejumlah variabel penerusan dalam arus komunikasi massa dari sumber media massa kepada khalayak yang luas.

5. Beberapa anggota dari khalayak luas itu memperoleh pesan-pesan secara langsung dari media massa, sementara yang lain memperolehnya dari sumber atau saluran lain, atau dari tangan kedua, ketiga, atau yang setcrusnya lagi.

6. Jumlah yang tepat dari tahap-tahap dalam proses itu bcrgantung pada maksud sumber, tersedianya media massa, atau maksud kctcrpaan mereka, sifat pesan dan penampilan, atau sifat kcmenarikannya terhadap khalayak.

7. Dewasa ini banyak peneliti komunikasi menaruh kepercayaan pada konsepsi model alir banyak tahap tentang proses komunikasi massa, sekurang-kurangnya secara intuitif menyetujuinya.

8. Model alir banyak tahap memungkinkan dilakukannya suatu analisis yang lebih tepat atas proses atau jalannya pesan-pesan media, sebab model ini memberikan kesempatan seluas-luasnya bagi peneliti untuk memperhitungkan secara lebih tepat kemungkinan atau variabel­variabel yang berbeda-beda dalam situasi komunikasi yang berbeda-beda pula.

9. Model alir banyak tahap merupakan model yang paling sedikit kekhususannya atau keterbatasannya bila dibandingkan dengan model-model lain.

C.  Model Komunikasi De Fleur

Model komunikasi De fleur pada dasarnya pengembangan teori komunikasi Shannon dan Weaver. Model komunikasi ini menggambarkan proses komunikasi melalui media massa.
Terdapat 8 komponen proses komunikasi massa, yaitu: source, transmitter, channel, receiver, destination, noise, mass medium device(sarana medium massa), dan feedback device (sarana umpan penyampaian balik) .

D. Model Michael W Gamble dan Teri Kwal Gamble

Model komunikasi massa yang dikemukakan oleh Gamble dan Gamble bisa dijadikan pembeda komunikasi massa dengan komunikasi secara umum Perbedaannya adalah digunakannya media massa modern sebagai salah satu unsur yang memengaruhi model komunikasi yang dijalankan. Perbedaan lain adalah dikemukakannya fungsi gatekeeper dalam model ini.

   a. Jika diringkas, sumber pesan mengalirkan pesan yang  “diedit” oleh penapis informasi.
 Kemudian pesan tersebut disebarkan melalui peralatan media massa, lalu diterima oleh audience.
   b. Proses penerimaan pesan yang dilakukan oleh audience dipengaruhi oleh berbagai gangguan.
   c. Alur pesan selanjutnya, audience memberikan umpan balik pada pengirim pesan melalui berbagai macam saluran.
   d. Proses penyebaran dan penerimaan pesan tersebut terus berjalan tanpa henti (komunikator dan komunikan) sama-sama penting di dalam proses komunikasi massa tersebut.
  e. Ciri lain : Audience ketika memberi repson kepada pengelola media, menurut G&G ia berposisi sebagai komunikator, dan pengelola media sebagai komunikan.

E. Model HUB (Herbert, Ungrait, Bohn)

Model ini menunjukkan bahwa proses komunikasi massa merupakan proses yang skuler, dinamis dan terus menerus berkembang model ini berbentuk lingkungan untuk menunjukkan bahwa komunikasi adalah suatu rangkaian aksi dan reaksi. Model ini mengibaratkan komunikasi sebagai proses yang mirip dengan peristiwa ketika sebuah batu kerikil dilempar ke dalam kolam. Krikil itu akan menimbulkan riak-riak air yang akan terus membesar sampai menyentuh tepian kolam dan memantulka kembali ke tengah pusat riak.



F. Model Black dan Whitney

Model ini kurang begitu detail menampilkan elemen-elemen dalam komunikasi massa, misalnya model ini tidak memberikan peranan gatekeeper sebagai penapis atau palang pintu informasi.
Paling tidak penggagas model ini memasukkan seorang sumber yang dengan sengaja ingin memengaruhi mass audience, pesan yang berpeluang mengalami gangguan atau kegaduhan karena memakai saluran media massa, audience itu sendiri yang beragam minat dan kepentingan dalam memanfaatkan pesan-pesan media massa dan umpan balik yang tertunda dan multiefek karena pesan tersebut ditanggapi secara beragam oleh audience satu sama lain, sehingga akan memunculkan efek yang berlainan satu sama lain.

G. Model Bruce Westley dan Malcom McLean

Bruce Westley dan Malcolm MacLean memperkenalkan model komunikasi mereka untuk membantu menjelaskan komunikasi interpersonal serta media komunikasi massa, menjelaskan bahwa melalui teori mereka, segala bentuk komunikasi, sederhana atau kompleks, dapat dimodelkan dan dipelajari. Tidak hanya teori komunikasi mereka saat ini dari satu sumber ke sumber lain, juga dieksplorasi komunikasi didefinisikan sebagai umpan balik, dikirim dari penerima untuk presenter, untuk membantu pembicara dalam menyesuaikan komunikasi mereka sehingga untuk lebih meningkatkan memahami penerima informasi yang disampaikan .
Teori Westley dan MacLean Komunikasi diwakili dalam empat versi, masing-masing gedung pada versi sebelumnya untuk meningkatkan tingkat detail yang terjadi dalam komunikasi. Masing-masing versi berisi variabel yang mewakili peran yang berbeda dalam komunikasi. Variabel X mewakili berbagai informasi yang harus disampaikan melalui komunikasi, dan juga dapat menentukan rangsangan yang berbeda yang diarahkan pada penerima komunikasi. Mewakili orang atau benda dengan peran advokasi dalam komunikasi, dalam bahwa mereka mencoba untuk sengaja mengirimkan informasi sepanjang model komunikasi. C merupakan pemancar kurang tujuan informasi dari A, bertindak seperti saluran untuk informasi, X, untuk diteruskan ke B, peran penerima atau penonton komunikasi.

H. Model Maletzke

 Model Komunikasi Maletzke adalah model proses komunikasi massa yang menekankan pada 4 komponen utama yaitu: Communicator, message, medium, and receiver. Dalam model ini khalayak didalam melakukan pencarian informasi, disebabkan oleh kebutuhan rasa ini ingin tahu (need cognition) dan gaya intuisi seseorang (personal cognition style). Keterpaan media massa dapat diukur melalui sumber-sumber media massa yang digunakan, curahan waktu untuk penerimaan pesan media, dan jenis pemakaian pesan. Tipologi kebutuhan manusia yang dapat dipenuhi media massa adalah kebutuha hiburan, hubungan personal, identitas pribadi dan pengumpulan informasi.
Menurut Maltzke, khalayak tidak dipengaruhi oleh media massa dalam keadaan kosong. Pesan merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari khalayak. Pesan itu disaring berdasarkan keyakinan, sikap, nilai-nilai, dan lingkungan sosialnya.

I. Model Bryant dan Wallace

Secara umum, model ini dikenal sebagai model untuk mengamati arus pesan dalam media elektronik.
Secara khusus, model ini tidak memasukkan gatekeeper dalam proses peredaran pesan, sehingga media dianggap sebagai ”dewa informasi” karena seluruh pesan dari media dapat langsung diterima secara utuh pada masyarakat.
LESSON 6. TEORI KOMUNIKASI MASSA

6.1 Penerapan Komunikasi Massa

A. Hypodermic Needle Theory

Pada umumnya khalayak dianggap hanya sekumpulan orang yang homogen dan mudah dipengaruhi. Sehingga, pesan-pesan yang disampaikan pada mereka akan selalu diterima. Fenomena tersebut melahirkan teori ilmu komunikasi yang dikenal dengan teori jarum suntik (Hypodermic Needle Theory). Teori ini menganggap media massa memiliki kemampuan penuh dalam mempengaruhi seseorang. Media massa sangat perkasa dengan efek yang langsung pada masyarakat. Khalayak dianggap pasif  terhadap pesan media yang disampaikan. Teori ini dikenal juga dengan teori peluru, bila komunikator dalam hal ini media massa menembakan peluru yakni pesan kepada khalayak, dengan mudah khalayak menerima pesan yang disampaikan media. Teori ini makin powerfull ketika siaran radio Orson Welles (1938) menyiarkan tentang invansi makhluk dari planet mars menyebabkan ribuan orang di Amerika Serikat panik.

Teori ini berkembang di sekitar tahun 1930 hingga 1940an. Teori ini mengasumsikan bahwa komunikator yakni media massa digambarkan lebih pintar dan juga lebih segalanya dari audience.
Teori ini memiliki banyak istilah lain. Biasa kita sebut Hypodermic needle (teori jarum suntik), Bullet Theory (teori peluru) transmition belt theory (teori sabuk transmisi). Dari beberapa istilah lain dari teori ini dapat kita tarik satu makna , yakni penyampaian pesannya hanya satu arah dan juga mempunyai efek yang sangat kuat terhadap komunikan.

B. Cultivation Theory

 Gerbner menyebut efek televisi ini sebagai kultivasi (cultivation), yang artinya ‘penanaman’, istilah yang pertama kali dikemukakan pada tahun 1969. Televisi dengan segala pesan dan gambar yang disajikannya merupakan proses atau upaya untuk ‘menanamkan’ cara pandang yang sama terhadap realitas dunia kepada khalayak. Televisi dipercaya sebagai instrumen atau agen yang mampu menjadikan masyarakat dan budaya bersifat homogen (homogenizing agent) (Littlejohn & Foss, 2005, hlm.299).

Teori kultivasi / analisis kultivasi adalah teori yang memperkirakan dan menjelaskan pembentukan persepsi, pengertian, dan kepercayaan mengenai dunia sebagai hasil dari mengonsumsi pesan media dalam jangka panjang. Dengan kata lain, realitas yang khalayak media terima adalah realitas yang diperantarai (mediated reality). Teori kultivasi tidak membahas efek dari suatu tayangan tertentu (apa yang akan dilakukan seseorang setelah menonton suatu tayangan), tetapi mengemukakan gagasan mengenai budaya secara keseluruhan.

C. Cultural Imperialism Theory

Teori ini pertama kali dikemukakan oleh Herb Schiller pada tahun 1973. Tulisan pertama Schiller yang dijadikan dasar bagi munculnya teori ini adalah Communication and Cultural Domination. Teori imperialisme budaya menyatakan bahwa negara Barat mendominasi media di seluruh dunia ini. Ini berarti pula, media massa negara Barat juga mendominasi media massa di dunia ketiga. Alasannya, media Barat mempunyai efek yang kuat untuk mempengaruhi media dunia ketiga. Media Barat sangat mengesankan bagi media di dunia ketiga. Sehingga mereka ingin meniru budaya yang muncul lewat media tersebut. Dalam perspektif teori ini, ketika terjadi proses peniruan media negara berkembang dari negara maju, saat itulah terjadi penghancuran budaya asli di negara ketiga.

Kebudayaan Barat memproduksi hampir semua mayoritas media massa di dunia ini, seperti film, berita, komik, foto dan lain-lain. Mengapa mereka bisa mendominasi seperti itu? Pertama, mereka mempunyai uang. Dengan uang mereka akan bisa berbuat apa saja untuk memproduksi berbagai ragam sajian yang dibutuhkan media massa. Bahkan media Barat sudah dikembangkan secara kapitalis. Dengan kata lain, media massa Barat sudah dikembangkan menjadi industri yang juga mementingkan laba.

Kedua, mereka mempunyai teknologi. Dengan teknologi modern yang mereka punyai memungkinkan sajian media massa diproduksi secara lebih baik, meyakinkan dan “seolah nyata”. Jika Anda pernah menyaksikan film Titanic ada kesan kapal Titanic tersebut benar-benar ada, padahal itu semua tidak ada. Bahkan ketika kapal tersebut akhirnya menabrak gunung es dan tenggelam, seolah para penumpang kapal itu seperti berenang di laut lepas, padahal semua itu semu belaka. Semua sudah bisa dikerjakan dengan teknologi komputer yang seolah kejadian nyata. Semua itu bisa diwujudkan karena negara Barat mempunyai teknologi modern.

Negara dunia ketiga tertarik untuk membeli produk Barat tersebut. Sebab, membeli produk itu jauh lebih murah jika dibanding dengan membuatnya sendiri. Berapa banyak media massa Indonesia yang setiap harinya mengakses dari media massa Barat atau kalau berita dari kantor berita Barat. Setiap hari koran-koran di Indonesia seolah berlomba-lomba untuk menampilkan tulisan dari kantor berita asing. Bahkan, foto demonstrasi di Jakarta yang seharusnya bisa difoto oleh wartawan Indonesia sendiri justru berasal dari kantor berita AFP (Perancis). Sesuatu yang sulit diterima, tetapi nyata terjadi.

Dampak selanjutnya, orang-orang di negara dunia ketiga yang melihat media massa di negaranya akan menikmati sajian-sajian yang berasal dari gaya hidup, kepercayaan dan pemikiran. Kalau kita menonton film Independence Day saat itu kita sedang belajar tentang Bangsa Amerika dalam menghadapi musuh atau perjuangan rakyat Amerika dalam mencapai kemerdekaan. Berbagai gaya hidup masyarakatnya, kepercayaan dan pemikiran orang Amerika ada dalam film itu. Mengapa bangsa di dunia ketiga ingin menerapkan demokrasi yang memberikan kebebasan berpendapat? Semua itu dipengaruhi oleh sajian media massa Barat yang masuk ke dunia ketiga.

Selanjutnya, negara dunia ketiga tanpa sadar meniru apa yang disajikan media massa yang sudah banyak diisi oleh kebudayaan Barat tersebut. Saat itulah terjadi penghancuran budaya asli negaranya untuk kemudian mengganti dan disesuaikan dengan budaya Barat. Kejadian ini bisa dikatakan terjadinya imperialisme budaya Barat. Imperialisme itu dilakukan oleh media massa Barat yang telah mendominasi media massa dunia ketiga.

Salah satu yang mendasari munculnya teori ini adalah bahwa pada dasarnya manusia tidak mempunyai kebebasan untuk menentukan bagaimana mereka berpikir, apa yang dirasakan dan bagaimana mereka hidup. Umumnya, mereka cenderung mereaksi apa saja yang dilihatnya dari televisi. Akibatnya, individu-individu itu lebih senang meniru apa yang disajikan televisi. Mengapa? Karena televisi menyajikan hal baru yang berbeda dengan yang biasa mereka lakukan.

Teori ini juga menerangkan bahwa ada satu kebenaran yang diyakininya. Sepanjang negara dunia ketiga terus menerus menyiarkan atau mengisi media massanya berasal dari negara Barat, orang-orang dunia ketika akan selalu percaya apa yang seharusnya mereka kerjakan, pikir dan rasakan. Perilaku ini sama persis seperti yang dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari kebudayaan Barat.

Teori imperislisme budaya ini juga tak lepas dari kritikan. Teori ini terlalu memandang sebelah mata kekuatan audience di dalam menerima terpaan media massa dan menginterpretasikan pesan-pesannya. Ini artinya, teori ini menganggap bahwa budaya yang berbeda (yang tentunya lebih maju) akan selalu membawa pengaruh peniruan pada orang-orang yang berbeda budaya. Tetepi yang jelas, terpaan yang terus-menerus oleh suatu budaya yang berbeda akan membawa pengaruh perubahan, meskipun sedikit.

D. Media Equation Theory

(The Media Equation Theory) dikemukakan oleh Byron Reeves dan Clifford Nass melalui tulisan mereka yang berjudul The Media Equation : How People Treat Computers, Television, and New Media Like Real People and Places. Keduanya merupakan profesor di jurusan Komunikasi Universitas Stanford Amerika. Melalui serangkaian penelitian yang mereka lakukan, Reeves dan Nass ingin melihat bagaimana komunikasi yang terjadi antara seorang individu dengan media. Hasilnya, berdasarkan teori persamaan media ini (teori ekuasi) Reeves dan Nass menggambarkan persoalan bagaimana orang-orang secara tidak sadar bahkan secara otomatis merespon apa yang dikomunikasikan media, seolah media itu manusia.

Teori persamaan media dari Reeves dan Nass ini mencoba memperlihatkan bahwa media juga bisa diajak berbicara. Media bisa menjadi lawan bicara individu seperti dalam komunikasi interpersonal yang melibatkan dua orang dalam situasi face to face. Dalam teori persamaan ini, media dianggap sebagai bagian dari kehidupan nyata (media and the real life are the same).

E. Spiral of Silence Theory

Berangkat dari asumsi tersebut, spiral kesunyian selanjutnya menjelaskan bahwa individu pada umumnya berusaha untuk menghindari isolasi, dalam arti sendirian mempertahankan sikap atau keyakinan tertentu. Oleh karenanya orang akan mengamati lingkungannya untuk mempelajari pandangan-pandangan mana yang bertahan dan mendapatkan dukungan dan mana yang tidak dominan atau populer, maka ia cendrung kurang berani mengekspresikan, karena adanya ketakutan akan isolasi tersebut. Pada sebuah isu kontroversial, orang-orang membentuk kesan tentang distribusi opini. Mereka mencoba menentukan apakah mereka merupakan mayoritas, dan kemudia mereka mencoba menentukan apakah opini Publik sejalan dengan mereka. Apabila mereka merasa adalah minoritas, maka mereka cenderung untuk diam berkenaan dengan isu tersebut. Semakin mereka diam, semakin orang lain merasa bahwa sudut pandang tertentu tidak terwakili, dan mereka semakin diam.

Jumlah orang yang tidak secara terbuka mengekspresikan pendapat yang berbeda dan perubahan dari pendapat yang berbeda kepada pendapat yang dominan.

Sebalikya, pendapat yang dominan akan menjadi semakin luas dan kuat. Semakin banyak orang merasakan kecendrungan ini dan menyesuaikan pendapatnya, maka satu kelompok pendapat akan menjadi dominan, sementara lainnya akan menyusut. Jadi kecendrungan seseorang untuk menyatakan pendapat dan orang lainnya menjadi dinamakan mengawali suatu proses spiral yang meningkatkan kemapanan satu pendapat sebagai pendapat umum atau pendapat yang dominan.

Teori spiral kebisuan mengacu hanya pada satu prinsip, walaupun itu merupakan salah satu yang paling penting dari komunikasi massa. Dalam istilah umum teori spiral kebisuan ini lebih memperhatikan pengaruh antara empat elemen: komunikasi massa; komunikasi interpersonal dan relasi sosial; ungkapan opini individu; dan persepsi individu yang ada di sekitar ’opini iklim’ mereka dalam lingkungan sosial. Teori ini mendasarkan asumsinya pada pemikiran sosial-psikologis tahun 30-an yang menyatakan bahwa pendapat pribadi sangat tergantung pada apa yang dipirkan oleh orang lain, atau atas apa yang orang rasakan sebagai pendapat dari orang lain.

F.  Technological Determinism Theory

Marshall McLuhan adalah pencetus dari teori determinisme teknologi ini pada tahun 1962 melalui tulisannya The Guttenberg Galaxy : The Making of Typographic Man. Dasar teorinya adalah perubahan pada cara berkomunikasi akan membentuk cara berpikir, berperilaku, dan bergerak ke abad teknologi selanjutnya di dalam kehidupan manusia. Sebagai intinya adalah determinisme teori, yaitu penemuan atau perkembangan teknologi komunikasi merupakan faktor yang mengubah kebudayaan manusia. Di mana menurut McLuhan, eksistensi manusia ditentukan oleh perubahan mode komunikasi.

Perubahan pada mode komunikasi membentuk suatu budaya dengan melalui beberapa tahapan, yaitu :
1. penemuan dalam teknologi komunikasi
2. perubahan dalam jenis-jenis komunikasi
3. peralatan untuk berkomunikasi
Dengan dilaluinya ketiga tahapan di atas, maka akhirnya peralatan tersebut membentuk atau mempengaruhi kehidupan manusia. Selanjutnya akan terjadi beberapa perubahan besar yang terbagi dalam empat periode/era, yaitu dapat dijelaskan dalam bagan di bawah ini :

Pertama, era kesukuan atau the tribal age. Pada periode ini, manusia hanya mengandalkan indera pendengaran dalam berkomunikasi. Mengucapkan secara lisan berupa dongeng, cerita, dan sejenisnya.

Kedua, era tulisan atau the age of literacy. Manusia telah menemukan alfabet atau huruf sehingga tidak lagi mengandalkan lisan, melainkan mengandalkan pada tulisan.

Ketiga, era cetak atau the print age. Masih ada kesinambungan dengan alfabet, namun lebih meluas manfaatnya karena telah ditemukan mesin cetak.

Keempat, era elektronik atau the electronic age. Contoh dari teknologi komunikasi yaitu telephon, radio, telegram, film, televisi, komputer, dan internet sehingga manusia seperti hidup dalam global village.

Teknologi komunikasi yang digunakan dalam media massa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan manusia atau menurut Em Griffin (2003 : 344) disebut nothing remains untouched by communication technology. Dan dalam perspektif McLuhan, bukan isi yang penting dari suatu media, melainkan media itu sendiri yang lebih penting atau medium is the message.

Contoh yang dapat ditemui dalam realita yaitu perkembangan teknologi yang semakin maju membuat segalanya serba ingin cepat dan instan. Teknologi sebagai peralatan yang memudahkan kerja manusia membuat budaya ingin selalu dipermudah dan menghindari kerja keras maupun ketekunan. Teknologi juga membuat seseorang berpikir tentang dirinya sendiri.

Jiwa sosialnya melemah sebab merasa bahwa tidak memerlukan bantuan orang lain jika menghendaki sesuatu, cukup dengan teknologi sebagai solusinya. Akibatnya, tak jarang kepada tetangga dekat kurang begitu akrab karena telah memiliki komunitas sendiri, meskipun jarak memisahkan, namun berkat teknologi tak terbatas ruang dan waktu.
Solusi agar budaya yang dibentuk di era elektronik ini tetap positif, maka harus disertai dengan perkembangan mental dan spiritual. Diharapkan informasi yang diperoleh dapat diolah oleh pikiran yang jernih sehingga menciptakan kebudayaan-kebudayaan yang humanis.

G. Diffusion of Inovation Theory

Teori Difusi Inovasi pada dasarnya menjelaskan proses bagaimana suatu inovasi disampaikan (dikomunikasikan) melalui saluran-saluran tertentu sepanjang waktu kepada sekelompok anggota dari sistem sosial. Hal tersebut sejalan dengan pengertian difusi dari Rogers (1961), yaitu “as the process by which an innovation is communicated through certain channels over time among the members of a social system.”

Lebih jauh dijelaskan bahwa  difusi adalah suatu bentuk komunikasi yang bersifat khusus berkaitan dengan penyebaranan pesan-pesan yang berupa gagasan baru, atau dalam istilah Rogers (1961) difusi menyangkut “which is the spread of a new idea from its source of invention or creation to its ultimate users or adopters.”

Sesuai dengan pemikiran Rogers, dalam proses difusi inovasi terdapat 4 elemen pokok, yaitu:

1. Inovasi; gagasan, tindakan, atau barang yang dianggap baru oleh seseorang. Dalam hal ini, kebaruan inovasi diukur secara subjektif menurut pandangan individu yang menerimanya. Jika suatu ide dianggap baru oleh seseorang maka ia adalah inovasi untuk orang itu. Konsep ’baru’ dalam ide yang inovatif tidak harus baru sama sekali.

2. Saluran komunikasi; ’alat’ untuk menyampaikan pesan-pesan inovasi dari sumber kepada penerima. Dalam memilih saluran komunikasi, sumber paling tidak perlu memperhatikan tujuan diadakannya komunikasi dan karakteristik penerima. Jika komunikasi dimaksudkan untuk memperkenalkan suatu inovasi kepada khalayak yang banyak dan tersebar luas, maka saluran komunikasi yang lebih tepat, cepat dan efisien, adalah media massa. Tetapi jika komunikasi dimaksudkan untuk mengubah sikap atau perilaku penerima secara personal, maka saluran komunikasi yang paling tepat adalah saluran interpersonal.

3.  Jangka waktu; proses keputusan inovasi, dari mulai seseorang mengetahui sampai memutuskan untuk menerima atau menolaknya, dan pengukuhan terhadap keputusan itu sangat berkaitan dengan dimensi waktu. Paling tidak dimensi waktu terlihat dalam proses pengambilan keputusan inovasi, keinovatifan seseorang: relatif lebih awal atau lebih lambat dalammenerima inovasi, dan kecepatan pengadopsian inovasi dalam sistem sosial.

4.  Sistem sosial; kumpulan unit yang berbeda secara fungsional dan terikat dalam kerjasama untuk memecahkan masalah dalam rangka mencapai tujuan bersama.  

H. Uses and Gratifications Theory

 Uses and Gratification atau penggunaan dan Pemenuhan (kepuasan) merupakan pengembangan dari teori atau  model jarum  hipordemik. Model ini tidak tertarik pada apa yang dilakukan oleh media pada diri seseorang, tetapi ia tertarik dengan apa yang dilakukan orang terhadap media. Khalayak dianggap secara aktif menggunakan media untuk memenuhi kebutuhannya.

Uses and Gtaifications menunjukan bahwa yang menjadi permasalahan utama bukanlah bagaimana media mengubah sikap dan perilaku  khalayak, tetapi bagaiman media memenuhi kebutuhan pribadi  dan sosial khalayak.  khalayak  dianggap secara aktif dengan sengaja menggunakan media untuk memenuhi kebutuhan dan mempuyai tujuan.

Studi dalam bidang memusatkan perhatian pada penggunaan (uses) isi media untuk mendapat kepuasan (Gratications) atas pemenuhan kebutuhan seseorang dan dari situlah timbul istilah Uses Gtarifications. Sebagian besar prilaku khalayak akan dijelaskan  melalui berbagai kebutuhan dan kepetingan individu. Dengan demikian, kebutuhan individu merupakan titik awal kemunculan teori ini.

Uses and Gtaification pada awalnya muncul ditahun 1940  samapai 1950 para pakar melakukan penelitian  mengapa khalayak terlibat berbagai jenis perilaku komunikasi. Lalu  mengalami kemunculan kembali dan penguatan di tahun 1970an dan 1980an.

Para teoritis pendukung Teori Uses and Gtaification berargumentasi bahwa kebutuhan manusialah yang mempengaruhi bagaimana mereka menggunakan dan merespon saluran media. Dengan demikian kebutuhan individu merupakan titik awal kemunculan teori ini.

Teori use and gratificaion ini adalah kebalikan dari teori peluru atau jarum hipodemik. dalam teori peluru media itu sangant aktif dalam all powerfull berada  audience. sementara berada dipihak pasif. Sementara dalam teori aktif  use and gartification ditekanka bahwa audience itu aktif untuk memillih mana media yang harus dipilih untuk memuaskan kebutuhannya.
I.  Agenda Setting Theory

Agenda Setting Theory adalah teori yang menyatakan bahwa media massa berlaku merupakan pusat penentuan kebenaran dengan kemampuan media massa untuk mentransfer dua elemen yaitu kesadaran dan informasi ke dalam agenda publik dengan mengarahkan kesadaran publik serta perhatiannya kepada isu-isu yang dianggap penting oleh media massa.

Teori Agenda Setting pertama dikemukakan oleh Walter Lippman (1965) pada konsep “The World Outside and the Picture in our head”, penelitian empiris teori ini dilakukan Mc Combs dan Shaw ketika mereka meniliti pemilihan presiden tahun 1972. Mereka mengatakan antara lain walaupun para ilmuwan yang meneliti perilaku manusia belum menemukan kekuatan media seperti yang disinyalir oleh pandangan masyarakat yang konvensional, belakangan ini mereka menemukan cukup bukti bahwa para penyunting dan penyiar memainkan peranan yang penting dalam membentuk realitas sosial kita, ketika mereka melaksanakan tugas keseharian mereka dalam menonjolkan berita.

 Khalayak bukan saja belajar tentang isu-isu masyarakat dan hal-hal lain melalui media, meraka juga belajar sejauh mana pentingnya suatu isu atau topik dari penegasan yang diberikan oleh media massa. Misalnya, dalam merenungkan apa yang diucapkan kandidat selama kampanye, media massa tampaknya menentukan isu-isu yang penting. Dengan kata lain, media menetukan “acara” (agenda) kampanye. Dampak media massa, kemampuan untuk menimbulkan perubahan kognitif di antara individu-individu, telah dijuluki sebagai fungsi agenda setting dari komunikasi massa. Disinilah terletak efek komunikasi massa yang terpenting, kemampuan media untuk menstruktur dunia buat kita. Tapi yang jelas Agenda Setting telah membangkitkan kembali minat peneliti pada efek komunikasi massa.

Mereka menuliskan bahwa audience tidak hanya mempelajari berita-berita dan hal-hal lainnya melalui media massa, tetapi juga mempelajari seberapa besar arti penting diberikan kepada suatu isu atau topik dari cara media massa memberikan penekanan terhadap topik tersebut. Misalnya, dalam merefleksikan apa yang dikatakan para kandidat dalam suatu kempanye pemilu, media massa terlihat menentukan mana topik yang penting. Dengan kata lain, media massa menetapkan 'agenda' kampanye tersebut. Kemampuan untuk mempengaruhi perubahan kognitif individu ini merupakan aspek terpenting dari kekuatan komunikasi massa. Dalam hal kampanye, teori ini mengasumsikan bahwa jika para calon pemilih dapat diyakinkan akan pentingnya suatu isu maka mereka akan memilih kandidat atau partai yang diproyeksikan paling berkompeten dalam menangani isu tersebut.

McCombs dan Shaw pertama-tama melihat agenda media. Agenda media dapat terlihat dari aspek apa saja yang coba ditonjolkan oleh pemberitaan media terebut. Mereka melihat posisi pemberitaan dan panjangnya berita sebagai faktor yang ditonjolkan oleh redaksi. Untuk surat kabar, headline pada halaman depan, tiga kolom di berita halaman dalam, serta editorial, dilihat sebagai bukti yang cukup kuat bahwa hal tersebut menjadi fokus utama surat kabar tersebut. Dalam majalah, fokus utama terlihat dari bahasan utama majalah tersebut. Sementara dalam berita televisi dapat dilihat dari tayangan spot berita pertama hingga berita ketiga, dan biasanya disertai dengan sesi tanya jawab atau dialog setelah sesi pemberitaan.

Sedangkan dalam mengukur agenda publik, McCombs dan Shaw melihat dari isu apa yang didapatkan dari kampanye tersebut. Temuannya adalah, ternyata ada kesamaan antara isu yang dibicarakan atau dianggap penting oleh publik atau pemilih tadi, dengan isu yang ditonjolkan oleh pemberitaan media massa.

McCombs dan Shaw percaya bahwa fungsi agenda-setting media massa bertanggung jawab terhadap hampir semua apa-apa yang dianggap penting oleh publik. Karena apa-apa yang dianggap prioritas oleh media menjadi prioritas juga bagi publik atau masyarakat.
Akan tetapi, kritik juga dapat dilontarkan kepada teori ini, bahwa korelasi belum tentu juga kausalitas. Mungkin saja pemberitaan media massa hanyalah sebagai cerminan terhadap apa-apa yang memang sudah dianggap penting oleh masyarakat. Meskipun demikian, kritikan ini dapat dipatahkan dengan asumsi bahwa pekerja media biasanya memang lebih dahulu mengetahui suatu isu dibandingkan dengan masyarakat umum.

Berita tidak bisa memilih dirinya sendiri untuk menjadi berita. Artinya ada pihak-pihak tertentu yang menentukan mana yang menjadi berita dan mana yang bukan berita.

Setelah tahun 1990an, banyak penelitian yang menggunakan teori agenda-setting makin menegaskan kekuatan media massa dalam mempengaruhi benak khalayaknya. Media massa mampu membuat beberapa isu menjadi lebih penting dari yang lainnya. Media mampu mempengaruhi tentang apa saja yang perlu kita pikirkan. Lebih dari itu, kini media massa juga dipercaya mampu mempengaruhi bagaimana cara kita berpikir. Para ilmuwan menyebutnya sebagai framing.


J. Media Critical Theory

Teori media kritis berasal dari aliran ilmu-ilmu kritis yang bersumber pada ilmu sosial Marxis. Beberapa tokoh yang mempeloporinya antara lain Karl Mark, Engels (pemikiran klasik), George Lukacs, Korsch, Gramschi, Guevara, Regis, Debay, T Adorno, Horkheimer, Marcuse, Habermas, Altrusser, Johan Galtung, Cardoso, Dos Santos, Paul Baran Samir Amin, Hamza Alavi (pemikiran modern). Ilmu ini juga disebut dengan emancipatory science (cabang ilmu sosial yang berjuang untuk mendobrak status quo dan membebaskan manusia, khususnya rakyat miskin dan kecil dari status quo dan struktur sistem yang menindas).

Teori kritis berangkat dari cara melihat realitas dengan mengasumsikan bahwa selalu saja ada struktur sosial yang tidak adil. Bila berbicara ketidak adilan maka dalam perjalanan sejarah kita menemukan banyak tokoh pejuang ketidak adilan, Musa diturunkan Tuhan untuk memperjuangkan ketidakadilan rezim pemerintahan Firaun terhadap rakyatnya. Muhammad dilahirkan untuk memperjuangkan ketidakadilan pada bangsa Arab dan bagi seluruh umat manusia. Dan masih banyak tokoh pejuang ketidakadilan yang hadir dimuka bumi ini untuk membebaskan masyarakatnya dari ketertin dasan. Tokoh-tokoh tersebut hadir sebagai penyeimbang kekuatan kezaliman yang ada pada waktu itu.

Berkaitan dengan itu, saat kita bergerak memasuki abad ke-21, kita melihat kian mendesaknya visi baru yang menentang asumsi-asumsi berbagai teori yang mencoba mejelaskan lingkungan sosial dan budaya kita. Kita memasuki lingkungan budaya baru yang secara dramatis ditransformasikan oleh teknologi komunikasi dan media gelobal, sehinga kita memerlukan kajian komunikasi dan kebudayaan untuk menganalisis ekonomi politik industri komunikasi dan budaya global. Didalam struktur baru ini,bentuk-bentuk teknologi komunikasi yang baru telaah menciptaka suatu bentuk interalasidan integrasi global yang tidak perna terbayangkan sebelumnya oleh sejarah dunia.

Teori kritis melihat bahwa media tidak lepas kepentingan, terutama sarat kepentingan kaum pemilik modal, negara atau kelompok yang menindas lainnya. Dalam artian ini, media menjadi alat dominasi dan hegemoni masyarakat. Konsekuensi logisnya adalah realitas yang dihasilkan oleh media bersifat pada dirinya bias atau terdistorsi.

Selanjutnya, teori kritis melihat bahwa media adalah pembentuk kesadaran. Representasi yang dilakukan oleh media dalam sebuah struktur masyarakat lebih dipahami sebagai media yang mampu memberikan konteks pengaruh kesadaran (manufactured consent). Dengan demikian, media menyediakan pengaruh untuk mereproduksi dan mendefinisikan status atau memapankan keabsahan struktur tertentu. Inilah sebabnya, media dalam kapasitasnya sebagai agen sosial sering mengandaikan juga praksis sosial dan politik.

Media massa merupakan produk yg dipengaruhi oleh politik, ekonomi, kebudayaan, dan sejarah. Jadi fokus kajiannya adalah fungsi-fungsi apa yg harus dilakukan oleh media massa di dalam masyarakat.

Pendefinisian dan reproduksi realitas yang dihasilkan oleh media massa tidak hanya dilihat sebagai akumulasi fakta atau realitas itu sendiri. Reproduksi realitas melalui media merupakan representasi tarik ulur ideologi atau sistem nilai yang mempunyai kepentingan yang berbeda satu sama lain. Dalam hal ini, media tidak hanya memainkan perannya hanya sekedar instrumen pasif yang tidak dinamis dalam proses rekonstruksi budaya tapi media massa tetap menjadi realitas sosial yang dinamis.

Teori kritis mengajarkan bahwa pengetahuan adalah kekuatan untuk memahami bagaimana seseorang ditindas sehingga orang dapat mengambil tindakan untuk merubah kekuatan penindas.


LESSON 7. EFEK KOMUNIKASI MASSA

7.1 Efek Komunikasi

Menurut Keith R. Stamm dan John E. Bowes (1990), efek media dalam mempengaruhi manusia, dibagi menjadi dua bagian, yaitu:

A.  Efek Primer dan Sekunder
Bisa dikatakan secara sederhana bahwa efek primer terjadi jika ada orang mengatakan telah terjadi proses komunikasi terhadap obyek yang dilihatnya. Sedangkan yang termasuk dalam efek sekunder itu adalah perilaku penerima yang ada di bawah kontrol langsung komunikator.

Dengan teori ini seorang dai akan tau sebatas mana masyarakat yang akan ia hadapi dan dapatkah dai tersebut berkomunikasi dengan mereka yang banyak dan seberapa jauh masyarakat akan mencontohnya.

7.2 Teori- Teori Efek
Efek media pada manusia semakin besar, saat televisi komersial hadir di tengah masyarakat pada tahun 1935. Dimana sejarah awal tentang studi efek, lebih difokuskan pada segi sikap dan perilaku. Oleh karenanya efek media terbagi dalam tiga periode, yaitu:

A. Efek tidak terbatas
Efek tidak terbatas ini didasarkan pada teori atau model peluru (bullet) atau jarum hipodermik ( hypodermic needle). Jadi, media massa diibaratkan peluru. Jika peluru itu ditembakkan ke sasaran, sasaran tidak akan bias menghindar. Analogi ini menunjukkan bahwa peluru mempunyai kekuatan yang luar biasa di dalam usaha “mempengaruhi” sasaran. Menurut asumsi efek ini, media massa mempunyai kekuatan yang luar biasa ( all powerful). Hal inilah yang mendasari bahwa media massa mempunyai efek tidak terbatas. Efek ini didasarkan pada asumsi-asumsi sebagai berikut : Ada hubungan yang langsung antara isi pesan dengan efek yang ditimbulkan.

Penerima pesan tidak mempunyai sumber social dan psikologis untuk menolak upaya persuasif yang dilakukan media massa. Asumsi mengapa efek tidak terbatas ini muncul bias dikaji dari perspektif psikologi dan sosiologi. Ilmu psikologi memandang bahwa individu merupakan makhluk yang tidak rasional dan dalam perilakunya secara luas dikontrol oleh instingnya. Sementara itu, menurut Ilmu sosiologi , masyarakat pasca-industri atau yang sering disebut “masyarakat massa” (mass society) dianggap tidak melakukan hubungan antar persona. Dalam masyarakat itu, satu sama lain saling meninggalkan atau saling mengisolasi diri. Akibatnya, individu tersebut mudah terpengaruh oleh efek media massa.
Meskipun banyak yang mengkritik, efek tidak terbatas ini masih diyakini memiliki pengaruh yang kuat dalam “membentuk” benak audience.

  B. Efek Terbatas

Efek terbatas ini sangat berbeda dengan efek tidak terbatas. Jika dalam efek tidak terbatas media massa itu memiliki pengaruh yang sangat besar terhadap audiens, yakni pesan yang disampaikan oleh komunikator melalui media massa akan mempengaruhi perilaku audiens atau komunikannya. Justru dalam efek terbatas ini pesan yang disampaikan oleh komunikator melalui media massa sedikit sekali mengubah perilaku audiens.

Efek terbatas ini pertama kali diperkenalkan oleh Joseph Klaper. “Ia pernah menulis disertasi tentang efek terbatas media massa yang dipublikasikannya dengan judul “Pengaruh Media Massa” pada tahun 1960.
 Efek terbatas ini didapatkan oleh Joseph Klaper setelah ia meneliti kampanye publik, kampanye politik dan percobaaan pada desain pesan yang bersifat persuasif. Dari hasil penelitiannya ia menyimpulkan, ‘ketika media menawarkan isi yang diberitakan ternyata sedikit yang mengubah pandangan dan perilaku audience.

aktor psikologis dan sosial audiens menjadi penyebab adanya efek terbatas ini. “Josep Klaper dalam buku The Effect of Mass Communication (1960) menunjukan temuan yang menarik bahwa faktor psikologis dan sosial ikut berpengaruh dalam proses penerimaan pesan dari media massa. Faktor-faktor tersebut antara lain proses seleksi, proses kelompok, norma kelompok dan keberadaan pemimpin opini.

 C. Efek moderat

“Pandangan terakhir aktual tentang efek komunikasi massa adalah efek moderat. Dua efek sebelumnya dianggap perlu berat sebelah. Meskipun diakui bahwa munculnya kedua efek itu karena tuntutan zamannya Jadi efek moderat ini lahir seiring dengan zaman yang terus berubah.

Manusia akan memberikan respons yang berbeda-beda dalam menerima pesan yang disuguhkan oleh media massa. “ada beberapa hal yang ikut memengaruhi proses penerimaan pesan seseorang, misalnya selective exposure. Selective exposure sebenarnya adalah gejala kunci yang sering dikaitkan dengan model efek terbatas, tetapi bukti yang ada di lapangan justru sering bertolak belakang.

Efek moderat sangat berbeda dengan dua efek sebelumnya. “Model efek moderat ini sebenarnya mempunyai implikasi positif bagi pengembangan studi media massa. Bagi para praktisi komunikasi akan menggugah kesadaran baru bahwa sebelum sebuah pesan disiarkan perlu direncanakan dan diformat secara matang dan lebih baik”.

7.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Efek
Banyak argumentasi yang mengupas bebagai perbedaan pandangan terkait reaksi khalayak terhadap media massa. Misalnya saja model Hypodermis yang menunjukkan kekuatan media massa dalam mengarahkan dan membentuk perilaku khalayak.

Tetapi muncul juga pendapat lain yang berbeda, dimana tertuang dalam model uses and gratifications. Model ini memandang bahwa media memang berpengaruh, tetapi pengaruh ini disaring, diseleksi, bahkan mungkin ditolak sesuai dengan faktor-faktor personal yang mempengaruhi reaksi mereka.

Media massa adalah faktor lingkungan yang dapat mengubah perilaku khalayak, sedangkan khalayak itu sendiri dianggap sebagai kepala kosong yang siap untuk menampung atau menerima pesan-pesan yang telah diberikan atau disampaikan dari media massa.

Dari sini khalayak akan memilih suatu informasi dari lingkungan yang berbeda pula. Dalam perspektif kategori sosial yang berasumsi bahwa dalam masyarakat terdapat kelompok-kelompok sosial yang reaksinya pada stimuli tertentu cenderung sama. Untuk anak-anak dalam menyukai tayangan televisi, mereka lebih menyukai tayangan film-film kartun. Dan untuk usia seorang ibu-ibu rumah tangga, mereka lebih cenderung menyukai tayangan tentang acara memasak atau film-film telenovela yang cenderung menceritakan tentang kisah-kisah percintaan dan kisah-kisah perselingkuhan atau sinetron-sinetron dan untuk usia remaja mereka lebih menyukai tentang tayangan seperti infotaiment.

Untuk golongan sosial yang berdasarkan jenis kelamin, yaitu untuk para perempuan mereka lebih menyukai tayangan-tayangan seperti acara gosip dan sinetron-sinetron.

Sedangkan untuk para laki-laki mereka lebih menyukai atau memilih tentang tayangan olahraga, seperti tinju dan sepak bola. Untuk golongan sosial berdasarkan tingkat pendapatan, mereka yang pendapatannya lebih dari standar atau tingga maka tayangan dalam media TV mereka lebih menyukai tentang acara yang menayangkan ada tempat tempat perbelanjaan.

Dari masing-masing sebagian golongan sosial tersebut apabila masing-masing golongan sosial seperti usia, jenis kelamin, tingkat pendapatan dan yang lainnya maka apabila mereka cenderung memilih isi komunikasi yang sama maka bila mereka berkomunikasi maka akan memberi respon dengan cara yang hampir sama juga.

LESSON 8.  MEMAHAMI ETIKA DALAM KOMUNIKASI MASSA

8.1 Etika, Etiket dan Moral Dalam Komunikasi Massa

Kata “etika” berasal dari Bahasa Yunani Kuno yaitu ethos, yang dalam bentuk jamak berubah menjadi ta etha,yang berarti adat istiadat. Arti inilah yang menjadi latar belakang bagi terbentuknya studi mengenai etika yang diawali oleh Aristoteles (384-322 SM). Sehingga jika kita mengartikan etika hanya dari sisi etimologis, maka defennisi yang mencuat atas kata “etika” adalah ilmu tentang adat kebiasaan.

Kata yang berdekatan dengan kata “etika” adalah kata “moral” yang juga berasal dari bahasa yunani kuno yaitu mos yang dalam bentuk jamak berubah bunyi menjadi mores. Arti dari kata ini adalah kebiasaan, adapt. Wajar jika kedua kata ini berdampingan dalam penggunaannya, karena memang secara etimologis keduanya memiliki makna yang serupa.

Dari segi etimologi (ilmu asal usul kata), etika berasal dari bahasa Yunani, ethos yang berarti watak kesusilaan atau adat. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, etika diartikan ilmu pengetahuan tentang azaz-azaz akhlak (moral) atau etika adalah ilmu tentang apa yang baik dan apa yang buruk dan tentang hak dan kewajiban moral atau akhlak. Dari pengertian kebahsaan ini terlihat bahwa etika berhubungan dengan upaya menentukan tingkah laku manusia.
Adapun arti etika dari segi istilah, telah dikemukakan para ahli dengan ungkapan yang berbeda-beda sesuai dengan sudut pandangnya. Menurut ahmad amin mengartikan etika adalah ilmu yang menjelaskan arti baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh manusia, menyatakan tujuan yang harus dituju oleh manusia di dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat.

Dari definisi etika tersebut diatas, dapat segera diketahui bahwa etika berhubungan dilihat dari segi objek pembahasannya, etika berupaya membahas perbuatan yang dilakukan oleh manusia. Kedua dilihat dari segi sumbernya, etika bersumber pada akal pikiran atau filsafat. Sebagai hasil pemikiran, maka etika tidak bersifat mutlak, absolute dan tidak pula universal.

Ia terbatas, dapat berubah, memiliki kekurangan, kelebihan dan sebagainya. Selain itu, etika juga memanfaatkan berbagai ilmu yang memebahas perilaku manusia seperti ilmu antropologi, psikologi, sosiologi, ilmu politik, ilmu ekonomi dan sebagainya. Ketiga, dilihat dari segi fungsinya, etika berfungsi sebagai penilai, penentu dan penetap terhadap sesuatu perbuatan yang dilakukan oleh manusia, yaitu apakah perbuatan tersebut akan dinilai baik, buruk, mulia, terhormat, hina dan sebagainya. Dengan demikian etika lebih berperan sebagai konseptor terhadap sejumlah perilaku yang dilaksanakan oleh manusia. Etika lebih mengacu kepada pengkajian sistem nilai-nilai yang ada. Keempat, dilihat dari segi sifatnya, etika bersifat relative yakni dapat berubah-ubah sesuai dengan tuntutan zaman.
Etika adalah cabang dari aksiologi, yaitu ilmu tentang nilai, yang menitikberatkan pada pencarian salah dan benar atau dalam pengertian lain tentang moral dan immoral. Etika dapat dibedakan menjadi tiga macam, yaitu :
1. Etika sebagai ilmu, yang merupakan kumpulan tentang kebajikan, tentang penilaina dari perbuatan seseorang.
2. Etika dalam arti perbuatan, yaitu perbuatan kebajikan, Misalnya seseorang dikatakan etis apabila orang itu telah berbuat kebajikan.
3. Etika sebagai filsafat, yang mempelajari pandangan-pandangan, persoalan-persoalan yang berhubungan dengan masalah kesusilaan.
Dengan ciri-cirinya yang demikian itu, maka etika lebih merupakan ilmu pengetahuan yang berhubungan dengan upaya menentukan perbuatan yang dilakukan manusia untuk dikatan baik atau buruk. Berbagai pemikiran yang dikemukakan para filosof barat mengenai perbuatan baik atau buruk dapat dikelompokkan kepada pemikiran etika, karena berasal dari hasil berfikir. Dengan demikian etika sifatnya humanistis dan antroposentris yakni bersifat pada pemikiran manusia dan diarahkan pada manusia. Dengan kata lain etika adalah aturan atau pola tingkah laku yang dihasulkan oleh akal manusia.
Tugas etika, tidak lain berusaha untuk mengetahui hal yang baik dan yang dikatakan buruk. Sedangkan tujuan etika, adalah agar setiap manusia mengetahui dan menjalankan perilaku, sebab perilaku yang baik itu bukan saja penting bagi dirinya saja, tapi juga penting bagi orang lain, bagi masyarakat, bagi bangsa dan Negara, dan yang terpenting bagi Allah swt.



MORAL DALAM KOMUNIKASI MASSA

Moral berasal dari bahasa Latin mores, jamak kata mos yang berarti adat kebiasaaan. Moralitas adalah istilah manusia menyebut ke manusia atau orang lainnya dalam tindakan yang mempunyai nilai positif. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, Moral artinya ajaran tentang baik-buruk yang diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, budi pekerti, akhlak. Moral adalah istilah yang digunakan untuk menetukan batas-batas suatu sifat, perangai, kekehndak, pendapat atau perbuatan yang layak dikatakan benar, salah, baik, buruk.

Manusia yang tidak memiliki moral disebut amoral artinya dia tidak bermoral dan tidak memiliki nilai positif di mata manusia lainnya. Sehingga moral adalah hal mutlak yang harus dimiliki oleh manusia. Moral secara ekplisit adalah hal-hal yang berhubungan dengan proses sosialisasi individu, tanpa moral manusia tidak bisa melakukan proses sosialisasi.
Moral merupakan pengetahuan yang menyangkut budi pekerti manusia yang beradap. Moralisasi, berarti uraian (pandangan, ajaran) tentang perbuatan dan kelakuan yang baik. Demoralisasi berarti kerusakan moral.

Moral dalam zaman sekarang mempunyai nilai implisit karena banyak orang yang mempunyai moral atau sikap amoral itu dari sudut pandang yang sempit. Moral itu sifat dasar yang diajarkan di sekolah-sekolah dan manusia harus mempunyai moral jika ia ingin dihormati oleh sesamanya. Moral adalah nilai ke-absolutan dalam kehidupan bermasyarakat secara utuh.

Selanjutnya moral dalam arti istilah adalah suatu istilah yang digunakan untuk menentukan batas-batas dari sifat, perangai, kehendak, pendapat atau perbuatan yang secara layak dapat dikatakan benar, salah, baik atau buruk. Moral dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu :
1. Moral murni, adalah moral yang terdapat pada setiap manusia sebagai suatu pengejawantahan dari pancaran ilahi. Moral murni disebut juga hati nurani.
2. Moral terapan, adalah moral yang didapat dari ajaran pelbagai ajaran filosofis, agama, adat yang menguasai pemutaran manusia.
Berdasarkan kutipan tersebut diatas, dapat dipahami bahwa moral adalah istilah yang digunakan untuk memberikan batasan terhadap aktifitas manusia dengan nilai (ketentuan) baik atau buruk, benar atau salah.

Kesadaran moral erat pula hubungannya dengan hati nurani yang dalam bahasa asing disebut conscience, conscientia, gewissen, geweten, dan bahasa arab disebut dengan qalb, fu'ad. Dalam kesadaran moral mencakup tiga hal. Pertama, perasaan wajib atau keharusan untuk melakukan tindakan yang bermoral. Kedua, kesadaran moral dapat juga berwujud rasional dan objektif, yaitu suatu perbuatan yang secara umumk dapat diterima oleh masyarakat, sebagai hal yang objektif dan dapat diberlakukan secara universal, artinya dapat disetujui berlaku pada setiap waktu dan tempat bagi setiap orang yang berada dalam situasi yang sejenis. Ketiga, kesadaran moral dapat pula muncul dalam bentuk kebebasan.

Berdasarkan pada uraian diatas, dapat sampai pada suatu kesimpulan, bahwa moral lebih mengacu kepada suatu nilai atau system hidup yang dilaksanakan atau diberlakukan oleh masyarakat. Nilai atau sitem hidup tersebut diyakini oleh masyarakat sebagai yang akan memberikan harapan munculnya kebahagiaan dan ketentraman. Nilai-nilai tersebut ada yang berkaitan dengan perasaan wajib, rasional, berlaku umum dan kebebasan. Jika nilai-nilai tersebut telah mendarah daging dalam diri seseorang, maka akan membentuk kesadaran moralnya sendiri. Orang yang demikian akan dengan mudah dapat melakukan suatu perbuatan tanpa harus ada dorongan atau paksaan dari luar.

8.2 Mengapa Etika Komunikasi Harus Dipahami
Etika merupakan suatu perilaku yang mencerminkan itikad baik untuk melakukan suatu tugas dengan kesadaran, kebebasan yangdilandasi kemampuan. Beberapa aspek moral dan etika yang terkandung dalam prinsip-prinsip jurnalistik antara lain: kejujuran, ketepatan atau ketelitian,  tanggung jawab, dan kritik konstruktif.

Dalam perspektif komunikasi, pembahasan tentang etika komunikasi akan dititikberatkan pada pengertian tentang etika itu sendiri. Untuk mengukur kualitas etika yang baik, dapat dilihat dari sejauhmana kualitas teknis berkomunikasi itu sesuai dengan nilai-nilai kebaikan yang berlaku. Dalam konteks komunikasi, maka etika yang berlaku harus sesuai dengan norma-norma setempit.

Berkomunikasi yang baik menurut norma agama berarti harus sesuai dengan norma agama yang dianut. Jadi kaitan antara nilai etis dengan norma yang berlaku sangat erat. Pertimbangan etis bukan hanya di antara baik dan buruk, juga bukan diantara baik dan baik. Etika juga harus merujuk kepada patokan nilai, standar benar dan salah. Kita berhadapan dengan masalah etika kapan saja kita harus melakukan tindakan yang sangat mempengaruhi orang lain.

Tindakan itu bukan tindakan terpaksa. Pada diri kita ada kebebasan untuk memilih cara dan tujuan berdasarkan patokan yang kita yakini. Patokan itu dapat bersumber pada label budaya, filsafat dan agama. Sebagian orang bahkan tidak mau merujuk kepada patokan secara ketat. Menurut mereka patokan itu bisa saja menyesatkan secara etis pada situasi tertentu.

Dalam pengertian yang sempit, etika sering dipahami sebagai hal-hal yang bersifat evaluatif, menilai baik dan buruk. Tetapi, etika dapat dipahami secara lebih luas, bukan sekedar etis dalam pengertian faktor-faktor evaluatif memberikan penilaian, tetapi juga mengandung pengertian etos, yakni hal-hal yang bersifat evaluatif (mendorong).Dalam hal etika komunikasi, bagaimana aturan main berkomunikasi,
yaitu tata cara berkomunikasi antar manusia khususnya komunikasi massa.

8.3  Etika Komunikasi Massa ( tanggungjawab, kebebasan pers, masalah etis, ketetapan dan obyektifitas, tindakan adil untuk semua orang)

A. Tanggung Jawab

Tanggung jawab mempunyai dampak positif. Dengan adanya tanggung jawab, media akan berhati-hati dalam menyiarkan atau menyebarkan informasinya. Seorang jurnalis atau wartawan harus memiliki tanggung jawab dalam pemberitaan atau apapun yang ia siarkan.

Apa yang diberikan atau disiarkan harus dapat dipertanggung jawabkan, baik kepada Tuhan, masyarakat, profesi, atau dirinya masing-masing. Jika apa yang diberitakan menimbulkan konsekuensi yang merugikan, pihak media massa harus bertanggung jawab dan bukan menghindarinya.

 Jika dampak itu sudah merugikan secara perdata maupun pidana, media massa harus bersedia bertanggung jawab seandainya pihak yang dirugikan tersebut protes ke pengadilan.

B.  Kebebasan Pers

Kebebasan yang bukan berarti bebas sebebas-bebasnya, tetapi kebebasan yang bertanggung jawab. Dengan kebebasanlah berbagai informasi bisa tersampaikan ke masyarakat. Jakob Oetama (2001) dalam Pers Indonesia Berkomunikasi dalam Masyarakat Tidak Tulus mengemukakan bahwa “pers yang bebas dinilainya tetap bisa lebih memberikan kontribusi yang konstruktif melawan error and oppression (kekeliruan dan penindasan), sehingga akal sehat kemanusiaanlah yang berjaya”.
Robert A. Dahl mengatakan bahwa kebebasan pers menjadi penting sebagai the availability of alternative and independent source of informatio.

C. Masalah Etis

Jurnalis itu harus bebas dari kepentingan. Ia mengabdi kepada kepentingan umum. Walau pada kenyataannya bahwa pers tidak akan pernah lepas dari kepentingan-kepentingan, yang diutamakan adalah menekannya, sebab tidak ada ukuran pasti seberapa jauuh kepentingan itu tidak boleh terlibat dalam pers. Ada beberapa ukuran normative yang dijadikan pegangan oleh pers:

 Seorang jurnalis sebisa mungkin harus menolak hadiah, alias “amplop”, menghindari menjadi “wartawan bodrek”.

 Seorang jurnalis perlu menghindari keterlibatan dirinya dalam politik, atau melayani organisasi masyarakat tertentu, demi menghindari conflict of interest.

 Tidak menyiarkan sumber individu jika tidak mempunyai nilai berita (news value).

 Wartawan atau jurnalis harus mencari berita yang benar-benar melayani kepentingan public, bukan untuk kepentingan individu atau kelompok tertentu.

D. Ketetapan dan obyektivitas

Ketetapan dan obyektivitas di sini berarti dalam menulis berita wartawan harus akurat, cermat, dan diusahakan tidak ada kesalahan. Obyektivitas yang dimaksud adalah pemberitaan yang didasarkan pada fakta-fakta di lapangan, bukan opini wartawannya.




E. Tindakan adil untuk semua orang

 Media harus melawan campur tangan individu dalam medianya. Artinya, pihak media harus berani melawan keistimewaan yang di inginkan seorang individu dalam medianya.

 Media berita mempunyai kewajiban membuat korelasi lengkap dan tepat jika terjadi ketidaksengajaan kesalahan yang dibuat (fairplay).

 Wartawan bertanggung jawab atas laporan beritanya kepada public dan public sendiri harus berani menyatakan keberatannya kepada media.

8.4  Realitas  Pelaksanaan Etika Komunikasi

Keberadaan etika bagi komunikasi massa adalah menjadi peraturan tersendiri bagi pelaksanaannya, namun tidak menutup kemungkinan munculnya pelangaran-pelangaran yang sewaktu-waktu bisa saja terjadi. Ada beberapa catatan tentang pelaksanaan etika komunikasi massa sebagai berikut.
1. Pelaksanaan etika komunikasi massa masih membutuhkan perjuangan yang berat dan terus menerus karena masih banyak munculnya pelanggaran dalam  etika.
2. Pelaksanaan etika bisa terhambat karena masing-masing pihak (pers, pemerintahan dan masyarakat) membuat ukuran tersendiri. Bagi pers, apa yang telah diberitakan sudah mewakili kepentingan masyarakat. Namun bagi pemerintah, model apapun cenderung untuk mempertahankaan kekuasaan. Jika masing-masing pihak sudah berbeda ukuran dalam memahami pihak lain, maka pelaksaan etika masih sulit diwujudkan.
3. Tanggug jawab yang hanya terletak pada awak media yang memberikan informasi bisa menyebabkan susah tegaknya etika komunikasi massa.


BABIII PENUTUP
Kesimpulan
Dalam kehidupan sehari-hari peranan media massa dalam berkumunikasi sangatlah besar dan saling keterkaitan dan tidak mampu dipisahkan. Media massa dewasa ini sangat berperan besar dalam menentukan opini ataupun pemikiran masyarakat, jaadi sudah selayaknya jika media massa memberitakan sesuatu yang sekiranya kurang baik dan bersifat tidak mendidik.

Selain itu fungsi komunikasi massa memang banyak sayangnya jika apa yang disampaikan memenuhi salah satu dari fungsi-fungsi tersebut yang menurut penulis tidak begitu penting untuk ditulis.

jika dianalisis bersama hampis tidak ada aktivitas yang tidak ditopengi oleh media massa, banyak orang kini membaca surat kabar, mendengarkan radio dan menonton televisi, oleh karena itu aktivitas komunikasi massa telah dijadikan sebagai ajang bisnis.

Istilah media massa mengacu kepada sejumlah media yang telah ada sejak puluhan tahun yang lalu dan tetap dipergunakan hingga saat ini, seperti surat kabar, majalah, film, radio, televisi, internet, dan lain-lain.

Banyak orang menggunakan media massa untuk berhubungan dengan massa, karena orang menganggap media merupakan bagian dari sebuah sistem
sosial dan bahkan media menciptakan sistem sosial baru. Media dijadikan sebagai
wahana dimana fungsi komunikasi (pengawasan, korelasi) itu dilakukan oleh dan
diantara kelangan unsur-unsur masyarakat.

Kenapa kita perlu mempelajari komunikasi massa? Yaitu karena komunikasi massa merupakan suatu ilmu yang keberadaannya sangat berpengaruh bagi kehidupan sosial. Baik itu dari perkembangan zaman, perubahan sosial, maupun fenomena-fenomena baru yang dapat ditemukan melalui media.


DAFTAR PUSTAKA

Rakhmat, Jalaluddin. 2011. Psikologi Kominikasi. Bandung: Rosdakarya
Daryanto. 2010. Ilmu Komunikasi. Bandung: Satunusa
Liliweri, Ali. 2011. Komunikasi Serba Ada Serba Makna. Jakarta: Kencana
Budiyanto, Heri & Farid Hamid. 2011. Ilmu Komunikasi Sekarang dan Tantangan
Masa Depan. Jakarta: Kencana
Morissan, Andy Corry & Farid Hamid.2010. Teori Komunikasi Massa. Bogor:
Ghalia Indonesia
http://komunikasiwidodo.blogspot.com/2012/11/model-komunikasi.html?m=1
http://muktikomunikasi.blogspot.com/2014/03/pengertian-dan-fungsi-teori-komunikasi.html?m=1
http://asiaaudiovisualra09gunawanwibisono.wordpress.com/2009/04/28/devinisi-ruang-lingkup-komunikasi
http//ahmadauliaarsyad.wordpress.com/2013/04/07/teori-teori-komunikasi-massa-uses-and-gratification-agenda-setting-dan-media-forum/aa.html






BIOGRAFI PENULIS MHD OBBY YUSUF
Mhd Obby Yusuf, lahir di Sibolga, Sumatra Utara 10 November 1994. Anak kedua dari tiga bersaudara, mempunyai satu kakak dan satu adek.
Jenjang pendidikan SD, SMP, SMA dan sedang menjalani studi di Universitas Islam Negeri Suska Riau. Yang mana SD di Pandan, SMP di MTS. Darur rachmad Sibolga, SMAN2 Sibolga.
Sebagai Mahasiswa penulis hanya sebagai Mahasiswa biasa, yang mana penulis hanya Panitia KPUM dan Komunitas Public Relations dikampus, selain itu penulis hanya sebagai penulis artikel diblogger pribadi dan sesekali mengikuti ajang kontes desain di salah satu situs web.






Related Posts

Mini Book Komunikasi Massa
4/ 5
Oleh

Subscribe via email

Dapatkan Info Seputar Obbzs Web Via Email